Jakarta, 4 Juni 2026 — Technologue.id, SATSPAM, inisiatif perlindungan masyarakat dari scam dan spam berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang dikembangkan oleh Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) bersama Tanla Platforms, mendapat pengakuan internasional. Sistem ini diangkat sebagai studi kasus oleh London Business School (LBS), salah satu sekolah bisnis terkemuka di dunia.

Dalam kajiannya, London Business School menyoroti SATSPAM sebagai contoh bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk membantu melindungi masyarakat dari ancaman scam digital yang terus berkembang. Studi tersebut juga mengangkat pentingnya kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, regulator, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem perlindungan digital yang lebih kuat, aman, dan terpercaya.

Pengakuan ini turut mencerminkan sinergi yang kuat antara dunia usaha dan pemerintah, termasuk dukungan Komdigi dalam menciptakan ekosistem transformasi digital yang kondusif. Inovasi seperti SATSPAM kini dapat berkembang dan mendapat pengakuan di tingkat global.

Director and Chief Legal and Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison sekaligus Chair Global Anti-Scam Alliance (GASA) Indonesia Chapter, Reski Damayanti, mengatakan pengakuan dari London Business School menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghadirkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. "Pengakuan dari London Business School ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya mampu menghadapi tantangan epidemi penipuan digital global, tetapi juga mampu menghadirkan inisiatif yang memberikan dampak nyata," ujar Reski.

Dari perspektif GASA, SATSPAM merupakan contoh konkret bagaimana kolaborasi antara operator telekomunikasi dan regulator dapat menghasilkan perlindungan yang berdampak sistemik bagi masyarakat. "Model kolaborasi seperti inilah yang perlu terus diperluas dan diperkuat bersama stakeholder lain seperti penyedia jasa keuangan, platform digital, aparat penegak hukum, dan pihak terkait lainnya, karena penipuan digital bersifat lintas sektor, sehingga upaya perlindungannya pun harus dilakukan secara kolaboratif lintas ekosistem," tambahnya.

Sejak diluncurkan pada Agustus 2025, SATSPAM telah membantu mendeteksi lebih dari 2 miliar indikasi scam dan spam di jaringan Indosat. Melalui pendekatan berbasis jaringan, sistem ini memanfaatkan AI untuk menganalisis berbagai sinyal komunikasi secara real-time guna membantu mengenali pola ancaman yang terus berkembang.

Performa SATSPAM terus meningkat seiring waktu, termasuk melalui Fitur Terbaru yang menawarkan proteksi WhatsApp call. Dengan kemampuan deteksi yang mencapai tingkat akurasi di atas 90 persen, sistem ini menjadi salah satu implementasi AI berbasis jaringan dalam skala besar untuk perlindungan pelanggan di sektor telekomunikasi.

Berbeda dengan pendekatan konvensional yang mengandalkan daftar blokir statis, SATSPAM dirancang untuk terus mempelajari pola ancaman baru. Sistem ini mampu beradaptasi terhadap berbagai modus penipuan digital yang semakin dinamis.

Dukungan regulator menjadi faktor kunci keberhasilan SATSPAM. Komdigi memberikan landasan yang memungkinkan pengembangan kapabilitas perlindungan berbasis AI dengan tetap mengedepankan kepatuhan terhadap regulasi, perlindungan data pribadi, dan kepentingan konsumen.

Sinergi ini diwujudkan antara lain melalui Indonesia Anti-Scam Center (IASC), forum koordinasi lintas lembaga jasa keuangan yang dikoordinasikan OJK dalam Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI). Forum ini mempercepat penanganan penipuan transaksi keuangan, termasuk pemblokiran rekening dan upaya pemulihan dana korban.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria menekankan pentingnya pendekatan berbasis AI. "Transformasi digital harus dibangun di atas rasa aman dan kepercayaan publik. Pemanfaatan AI untuk memperkuat perlindungan masyarakat dari scam dan spam merupakan langkah penting dalam menjaga ruang digital Indonesia tetap aman dan terpercaya," ujar Nezar.

Ia menambahkan bahwa kecepatan perkembangan modus penipuan digital membuat pendekatan konvensional tidak lagi cukup. "Inisiatif yang telah mulai dikembangkan oleh pelaku industri menunjukkan bahwa perlindungan terhadap masyarakat dari scam digital dapat diperkuat langsung di level jaringan telekomunikasi. Hal ini menjadi dasar bagi kami untuk mendorong seluruh industri telekomunikasi memperkuat sistem keamanannya," tegasnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menyambut baik inisiatif Indosat melalui SATSPAM. "OJK memandang penguatan perlindungan konsumen keuangan digital perlu dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan operator telekomunikasi, lembaga jasa keuangan, platform digital, regulator, dan aparat penegak hukum," ujarnya.

Bundling produk juga menjadi strategi Indosat untuk memperluas akses perlindungan, seperti Bundling Terbaru dengan Motorola. Selain itu, Paket Bundling dengan Google juga menunjukkan komitmen Indosat dalam menghadirkan solusi digital terpadu.

Di tengah meningkatnya kompleksitas ancaman digital, perlindungan masyarakat tidak lagi dapat bergantung pada satu institusi atau sektor saja. Pengalaman SATSPAM menunjukkan bahwa pemanfaatan AI yang didukung kolaborasi lintas sektor dapat menjadi pendekatan penting dalam memperkuat kepercayaan masyarakat.

Pengakuan dari London Business School semakin menegaskan relevansi pendekatan tersebut. Inovasi yang lahir dari Indonesia mampu memberikan kontribusi bagi diskusi global mengenai masa depan keamanan digital.