Technologue.id, Jakarta – Anak perusahaan Coca-Cola yang bergerak di bisnis produk susu, fairlife, menjadi korban serangan ransomware yang memaksa perusahaan menghentikan sementara sebagian operasinya di Amerika Serikat. Insiden tersebut berpotensi mengganggu produksi dan distribusi produk susu fairlife, meski Coca-Cola menegaskan kualitas serta keamanan produknya tetap terjaga.
Informasi ini diungkap Coca-Cola melalui dokumen resmi yang diajukan kepada U.S. Securities and Exchange Commission (SEC).
Dalam pengajuan tersebut, Coca-Cola menyatakan bahwa pada 16 Juli 2026, perusahaan menemukan adanya akses tanpa izin oleh pihak ketiga ke sebagian sistem milik fairlife, termasuk sistem yang berkaitan dengan proses produksi.
Perusahaan mengonfirmasi bahwa insiden tersebut terkait dengan serangan ransomware, yaitu jenis serangan siber di mana pelaku mengenkripsi atau mengunci sistem korban dan biasanya meminta uang tebusan agar akses dipulihkan.
Meski demikian, Coca-Cola belum mengungkapkan rincian teknis mengenai metode serangan maupun kelompok pelaku yang diduga berada di balik insiden tersebut.
Sebagai langkah mitigasi, fairlife menghentikan sementara sebagian operasinya di Amerika Serikat sambil melakukan investigasi dan pemulihan sistem.
Coca-Cola juga menyatakan telah menggandeng pakar keamanan siber eksternal untuk membantu menangani insiden tersebut. Selain itu, perusahaan telah memberi tahu otoritas terkait mengenai serangan yang terjadi.
Sementara itu, operasional fairlife di Kanada dilaporkan tetap berjalan normal dan tidak terdampak oleh insiden tersebut.
Dalam keterangannya, Coca-Cola menegaskan bahwa serangan siber tersebut tidak memengaruhi kualitas maupun keamanan produk fairlife yang telah diproduksi.
Namun, perusahaan mengakui bahwa penyelidikan masih berlangsung sehingga cakupan dan dampak sebenarnya dari insiden tersebut belum dapat dipastikan.
"Lingkup, sifat, dan dampak penuh dari insiden tersebut belum diketahui. Oleh karena itu, perusahaan belum dapat menentukan apakah insiden ini kemungkinan akan memberikan dampak material terhadap bisnis," tulis Coca-Cola dalam dokumen yang diajukan ke SEC.