Technologue.id, Jakarta – Sebanyak lebih dari 60 Satelit Starlink baru saja diluncurkan pada Senin (11/11/2019) di Cape Canaveral, Florida. Peluncuran satelit seberat 500 pound ini bertujuan untuk menghadirkan kontektivitas internet dimana saja.

Penyebaran Starlink kedua dari roket SpaceX Flacon 9 berjalan sukses. Kedepannya, masih ada lagi peluncuran pada tahun 2019 mendatang, dan SpaceX berencana untuk meluncurkan misi Starlink bulanan pada tahun 2020.

Sayangnya sejauh ini tidak ada peraturan yang berlaku untuk melindungi langit akan polusi di Antarika. James Lowenthal, seorang astronom di Smith College, mengatakan bahwa pertama kali melihat rangkaian satelit Starlink yang seperti bintang palsu melintasi langit malam di musim semi. Ini dinilai merupakan polusi cahaya di langit.

Dia menyadari adanya pergeseran di angkasa. Sebagian besar simpul Starlink pertama telah berpindah ke orbit yang lebih tinggi sehingga saat ini tak lagi terlihat oleh sebagian besar orang. Namun mereka masih terlihat di langit-langit yang gelap.

“Jika ada banyak dan semakin banyak benda bergerak yang terang di langit, itu sangat menyulitkan pekerjaan kami. Ini mengancam ilmu astronomi itu sendiri,” tambah Lowenthal.

Juru bicara SpaceX mengatakan perusahaannya mengambil langkah untuk memperbaiki pangkalan satelit yang menghadap ke Bumi guna mengurangi daya pantulnya.