Technologue.id, Jakarta – Belakangan, Apple menjadi perusahaan yang berisik, terutama setelah pemerintah Amerika Serikat memberlakukan larangan masuk terhadap imigran dari tujuh negara. CEO Apple, Tim Cook, pun sempat angkat suara bulan lalu dan menyatakan Apple tidak sepakat dengan aturan tersebut.

Menurut pria berkacamata itu, Apple adalah perusahaan yang terbuka. Siapa saja, termasuk imigran dari Iran, Irak, Libia, Somalia, Sudan, Siria, dan Yaman, bisa menjadi bagian dari keluarga besar perusahaan Cupertino tersebut.

“Pandangan sederhana kami adalah Apple tidak akan bisa tercipta tanpa imigrasi. Makanya aturan ini menjadi isu besar bagi kami. Jadi apa yang kami lakukan? Kami menyuarakan pendapat kami dan bergerak. Kami tidak duduk dan diam,” begitu jelas Cook.

Sikap ini pun memancing spekulasi apakah Apple kini telah menjadi perusahaan aktivis. Penerus tongkat estafet kepemimpinan dari Steve Jobs itu lantas berkomentar lagi, “Saya tidak melihat Apple sebagai aktivis begitu pun dengan saya.”

- Advertisement -

Bantahan Cook tersebut diperkuat dengan penjelasan bahwa Apple hanya mencoba untuk mengutarakan hal yang mereka pegang teguh.

“Kami tidak malu terhadap apa yang betul-betul kami pahami, lakukan, dan pelajari. Kami akan tetap berjuang walau suara kami tak lantang,” kata Cook, seperti dikutip dari BusinessInsider (09/02/17).

 

Baca juga:

Tim Cook: Apple Ada Karena Para Imigran

Orang Ini ‘Reinkarnasi’ Steve Jobs di Apple

Apple, Google, dan Gengnya vs Donald Trump, Siapa yang Akan Menang?