Technologue.id, Jakarta – Ketika Facebook memutuskan untuk mengakuisisi Instagram 2012 silam, tak sedikit yang merendahkan langkah ini. Sebab, mahar yang diberikan Zuckerberg dinilai terlalu tinggi untuk perusahaan yang hanya punya 13 karyawan dan sebuah aplikasi.

Empat tahun berselang, Instagram membuktikan diri sebagai komoditas penting di bisnis digital saat ini. Mereka dengan bangga mengumumkan sudah memiliki 500 juta pengguna, naik 100 juta dalam 10 bulan terakhir.

Namun kalau ditelisik lebih dalam, Instagram bisa dibilang bukan media sosial favorit di Amerika Serikat. Berdasarkan pernyataan resmi mereka, lebih dari 80 persen pemakai Instagram berasal dari luar AS. Artinya, cuma ada kurang dari 100 juta pemakai jejaring sosial khusus foto dan video itu di Negeri Paman Sam.

Kendati tak menyebutkan secara detail negara mana saja yang menjadi sumber pengguna terbanyak mereka, fakta ini berpotensi menjadi pisau bermata dua bagi Instagram. Memang, Instagram sudah mengglobal. Namun jika di negara tempat Silicon Valley berada Instagram kurang disuka, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat mereka akan tergeser dengan platform lain.

- Advertisement -

Tentu Anda menyadari bahwa AS adalah pusat tren digital untuk saat ini. Buktinya ketika demam Snapchat mewabah dari AS, negara-negara lain seperti Indonesia pun ketularan.

Menurut Anda, bisakah Instagram bertahan dari para kompetitornya dalam lima tahun mendatang?