Transaksi Kendor, Startup Zomato PHK Karyawan

Editor : Denny Mahardy

Technologue.id, Jakarta – Startup direktori restoran Zomato dilaporkan telah melakukan pengurangan karyawan dan pemotongan gaji akibat terkena dampak krisis coronavirus. Dua opsi ini dilakukan seiring banyak orang mengurangi jumlah pemesanan makanan secara online.

Dilansir TechCrunch (15/5/2020), Zomato memecat sebesar 13% dari tenaga kerjanya dan memberlakukan pemotongan gaji untuk karyawan yang tersisa. Perusahaan asal India itu tidak mengungkapkan jumlah pasti orang yang dilepasnya, namun diperkirakan jumlahnya melebihi 500 orang. Seorang juru bicara Zomato mengatakan kepada TechCrunch bahwa startup tersebut mempekerjakan sekitar 4.000 orang dan PHK berdampak pada tenaga kerjanya secara global.

Baca Juga:
Lesu Ekonomi, Karyawan Grab Terancam PHK?

Sebelumnya Zomato sudah memberhentikan sekitar 540 karyawan dari tim customer service pada bulan September tahun lalu. Saat itu perusahaan berjanji akan memberikan tunjangan kesehatan dan setengah dari gaji mereka selama enam bulan atau sampai mereka menemukan pekerjaan di tempat lain. Karyawan yang dipekerjakan oleh agen tenaga kerja dan tidak termuat dalam daftar gaji akan diberikan pesangon dua bulan, kata startup.

Deepinder Goyal, salah satu pendiri dan kepala eksekutif Zomato, mengatakan bahwa Zomato “sangat terpengaruh oleh penerapan lockdown COVID.” India memberlakukan lockdown nasional pada akhir Maret sampai saat ini, untuk mencegah berjangkitnya penyakit menular.

“Sejumlah besar restoran telah ditutup secara permanen, dan kami tahu ini hanyalah puncak gunung es. Saya berharap jumlah restoran menyusut 25-40 persen selama 6-12 bulan ke depan. Apa yang sebenarnya terjadi, baik atau buruk, adalah dugaan siapa pun,” tulisnya dalam posting blog.

Baca Juga:
Airy Rooms Berhenti Beroperasi pada 31 Mei 2020

Untuk mengurangi beban keuangan, Goyal juga mengusulkan pemotongan gaji di seluruh perusahaan.

“Mulai Juni, saya mengusulkan pengurangan pembayaran sementara untuk seluruh organisasi. Pemotongan yang lebih rendah sedang diusulkan untuk orang-orang dengan gaji yang lebih rendah, dan pemotongan yang lebih tinggi (hingga 50%) untuk orang-orang dengan gaji yang lebih tinggi,” katanya. Ia juga menyampaikan, beberapa orang telah secara sukarela melepaskan seluruh gaji mereka selama enam bulan.

Perusahaan juga menawarkan kepada karyawan untuk bekerja dari rumah secara permanen bahkan setelah perintah lockdown dicabut.

“Kita perlu memastikan bahwa kita menyimpan uang tunai sebanyak mungkin untuk mengatasi badai jika lingkungan bisnis memburuk untuk sisa tahun ini atau lebih,” kata Goyal.

Latest News

Akhirnya, Redmi Bakal Bikin Handphone Gaming Pertamanya

Sebelumnya Redmi selalu dikaitkan dengan Xiaomi. Namun pada 2019 silam, Redmi pisah dari Xiaomi. Tak lama, Redmi merilis ponsel berkamera 48 megapiksel...

Amazon Siap Jadi Kurir Vaksin Covid-19

Pandemi virus corona masih menghantui banyak orang di dunia. Peneliti di berbagai negara pun terus melakukan riset untuk menemukan vaksin Covid-19. Dengan...

Sharp AQUOS Sense4, Ponsel Terjangkau dengan Kuliatas Premium

Sepanjang tahun 2020 lalu pasar Smartphone di Indonesia terlihat menggairahkan, terhitung sampai dengan bulan November 2020 kemarin penjualan smartphone mampu menyerap  angka...

Mulai Hari Ini, PlayStation 5 Dijual di Indonesia

Technologue.id, Jakarta - PlayStation 5 resmi hadir di Indonesia. Konsol game Sony generasi teranyar ini sudah dapat dibeli mulai hari ini, Jumat...

Rilis Smartphone Harga Terjangkau, Sharp Yakin Bisa Bersaing di Indonesia

Technologue.id, Jakarta - Sharp dengan percaya diri hadir dengan Sharp AQUOS Sense4 untuk bersaing dengan pasar smartphone di Indonesia. Ponsel ini dilengkapi...

Related Stories