Waduh, Uber Kesandung Kasus Suap!

Waduh, Uber Kesandung Kasus Suap!
Ilustrasi Uber (source: Uber)

Technologue.id, Jakarta – Baru beberapa hari lalu, Dara Khosrowshahi didapuk sebagai CEO anyar Uber menggantikan Travis Kalanick. Sebelum ia dilantik pun sebenarnya eks CEO Expedia Inc. itu sudah punya setumpuk pekerjaan rumah, mulai dari kasus pelecehan pegawai hingga neraca Uber yang tak kunjung positif. Namun kini, satu masalah baru telah menanti Dara dan Uber.

Wall Street Journal (29/08/17) mendapat informasi bahwa Departemen Kehakiman Amerika Serikat sedang menimbang apakah manager Uber telah melanggar hukum yang berlaku terkait penyuapan. Sebab, ada laporan bahwa perusahaan ridesharing itu membayar pejabat sejumlah negara supaya layanannya tetap bisa beroperasi di kawasan tersebut.

Baca juga:

iPhone Rilis September 2017, Tanggal Berapa?

Sumber yang dikutip redaksi menyatakan Uber siap bersikap kooperatif dengan investigasi ini. Walau begitu, belum jelas apakah kasus ini akan fokus pada pelanggaran penyuapan di suatu negara atau operasi asing Uber secara umum.

Sebagai perusahaan yang punya layanan di banyak negara, Uber beberapa kali berhadapan dengan kasus-kasus. Salah satu contohnya ketika Uber dilarang beroperasi di Italia. April lalu, hasil pengadilan di Roma menyatakan bahwa layanan taksi online itu telah berkompetisi secara tidak adil melawan perusahaan taksi lokal. Selain di Italia, Uber juga sempat memunculkan gejolak di tengah masyarakat, seperti di Inggris, Prancis, bahkan di Indonesia.

Baca juga:

Awas, Kontak di Ponsel Anda Bisa Disalahgunakan oleh Sarahah!

Sebelumnya, manajemen Uber memang sedang goyah. Pasca Travis Kalanick resmi mundur 20 Juni lalu, sejumlah petinggi Uber lainnya turut hengkang. Tak tanggung-tanggung, dari 22 nama yang tampil, terdapat 14 nama yang diketahui juga telah melepas jabatannya sebagai petinggi dari perusahan asal California, Amerika Serikat tersebut.

Baca juga:

Wanita Ini Jadi Engineer Google Tanpa Kuliah Programming, Rahasianya?

Hal ini dapat menjadi sebuah indikasi bahwa internal Uber sendiri sedang tidak beres. Lantas, bukan tidak mungkin operasional mereka pun juga tidak stabil.