Technologue.id, Jakarta – Digital advertising, bisnis yang sudah lama ditekuni Google dan pemain besar lain di industri teknologi, tak sepenuhnya menyenangkan. Terkadang, ada juga iklan yang menyesatkan, misalnya berisi produk berbahaya atau ilegal. Tentu saja hal ini akan merugikan bagi siapa saja yang melihatnya dan tertarik mengklik atau bahkan terlibat dalam praktik dalam iklan tersebut.

Merespons tantangan ini, Google pun melancarkan serangan balik. Dari sekian banyak ancaman terhadap netizen via iklan, mereka mengaku telah memblokir 1,7 miliar iklan sepanjang 2016 yang terbukti melanggar kebijakan yang sudah ditetapkan. Jumlah itu, menariknya, naik dua kali lipat dari 2015.

Salah satu kategori iklan berbahaya yang telah diberantas Google adalah iklan yang mengandung informasi palsu demi mendapatkan klik dari netizen. Tak tanggung-tanggung, iklan seperti ini yang telah diblokir ada sebanyak 80 juta. Populasi iklan terblokir yang tak sedikit lainnya adalah iklan yang berkaitan dengan produk kesehatan ilegal (68 juta) dan iklan judi ilegal (17 juta).

Iklan yang mengandung malware juga tak luput dari sapuan Google. Tahun lalu, mereka mengklaim sudah menghapus 900 ribu iklan ber-malware.

Di samping kategori di atas, Google melalui blog resminya (25/01/17) turut menemukan tren iklan merugikan pengguna internet lain, yakni peminjaman uang (payday loan). Iklan seperti ini dianggap praktik predator terhadap para pihak yang menginvestasikan uangnya di bisnis tersebut.

Dengan semakin populernya bisnis digital dan kian banyaknya pengguna internet, tugas Google harusnya tak berhenti di sini. Terlebih jika melihat tren peningkatan ancaman dari 2015 ke 2016 tentang iklan, hampir bisa dipastikan Google bakal bekerja dua sampai tiga kali lebih keras dari tahun lalu. Anda sebagai pengguna internet pun sebaiknya berhati-hati dan menjaga diri agar tak terjerumus ke iklan yang menyesatkan.

 

Baca juga:

Jantung Twitter Kini Milik Google

Cek Estimasi Waktu dan Tarif Gojek, Grab, dan Uber Sekarang Bisa Lewat Google Maps

Terbukti, Apple Lebih ‘Hijau’ dari Google dan Facebook!