Baru-baru ini komplotan penjahat yang sering melakukan penyebaran foto porno anak di bawah umur diketahui sering menggunakan WhatsApp sebagai jalur berbagi data mereka. Hal ini diketahui setelah tim peneliti dari Spanyol selesai melakukan investigasi terkait laporan adanya penyebaran foto ilegal tersebut.

Dilansir dari BBC (19/4/2017), investigasi yang dilakukan oleh peneliti dari Spanyol menemukan adanya hubungan antara beberapa situs gelap dengan anggota dari grup pribadi aplikasi WhatsApp. Grup tersebut pun telah dikonfirmasi sebagai tempat peredaran foto-foto ilegal yang menampilkan anak di bawah umur sebagai objeknya.

Setidaknya terdapat 39 orang yang diduga merupakan pelaku dari penyebaran foto eksploitasi seks anak di Eropa dan Amerika Selatan. “Terdapat ratusan perangkat yang berisi material ilegal dari kasus ini, yang jumlahnya menyentuh angka terabyte”, ungkap tim gabungan dari Polisi Nasional Spanyol, Europol serta Interpol.

Operasi berskala internasional yang bernama Operasi Tantalio tersebut juga berhasil dilakukan berkat adanya kordinasi di Jerman, Spanyol dan Portugal, begitu pula dengan yang dilakukan pada wilayah Amerika Selatan yang meliputi Argentina, Chili, dan Ekuador.

Interpol mengatakan, ratusan ribu gambar dan video yang berhasil diamankan telah masuk ke database International Child Secual Exploitation (ICSE). Data tersebut akan mempermudah peneliti untuk membandingkannya dengan laporan dari para korban, keterangan pelaku, dan untuk melakukan analisa lokasi dari konten digital, visual dan audio.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada respon dari pihak WhatsApp, yang notabene merupakan bagian dari Facebook.