Technologue.id, Jakarta – Pertengahan Juni lalu, publik dikagetkan kala dua perusahaan teknologi ternama di bidangnya masing-masing bersatu. Mereka adalah jejaring sosial untuk para profesional, LinkedIn, dan kreator sistem operasi Windows, Microsoft. Saat itu, akuisisi Microsoft terhadap LinkedIn melibatkan nominal yang tak sedikit, yakni Rp 350 triliun.

Sang raksasa Redmond mengklaim akuisisi ini akan membantu mereka untuk memasarkan layanan premium Microsoft, seperti Office 365, pada kalangan profesional secara lebih luas. Lantas, apa keuntungan merger ini bagi LinkedIn?

Sebulan setelah pengumuman resmi dari Microsoft, Reid Hoffman akhirnya buka suara. Chairman sekaligus co-founder LinkedIn itu mengaku pada CNBC (7/7/16) kalau menerima pinangan Microsoft adalah strategi yang realistis. Sebab, mereka juga merasa kesulitan jika harus bertarung sendirian dengan Facebook, Google, termasuk Microsoft.

“Begitu Anda menjadi perusahaan publik, kalau tidak fokus pada R&D dan tidak mengembangkan teknologi yang dimiliki secepat mungkin, tentu akan sangat sulit berkompetisi dengan para raksasa teknologi,” begitu ujar Reid.

Reid Hoffman, co-founder LinkedIn (sumber: techcrunch.com)
Reid Hoffman, co-founder LinkedIn (sumber: techcrunch.com)

Pria berkacamata itu pun mengungkap tugas besar lain yang diemban LinkedIn, yakni mempertanggungjawabkan laporan keuangan dan perkembangan perusahaan pada para shareholder. Sebenarnya, Reid menilai LinkedIn bukannya tidak mampu melakoni kewajibannya, tetapi risiko yang harus mereka terima juga besar mengingat perusahaan besar masih ada dan startup terus bermunculan. Alhasil, bergabung ke Microsoft pun ia nilai sebagai solusi terbaik untuk tetap menjadi perusahaan besar sembari memberi layanan terbaik pada 433 juta penggunanya.

 

Baca juga :

MICROSOFT SEGERA PRODUKSI SMARTPHONE MEWAH

BIKIN PONSEL ANDROID, BLACKBERRY CARI SEKUTU

RUMOR: IPHONE 8 TAK LEBIH CANGGIH DARI ANDROID