Jakarta – Google Threat Intelligence Group (GTIG) merilis temuan mengejutkan mengenai penggunaan kecerdasan buatan dalam serangan siber massal. Pelaku ancaman kini mulai mengeksploitasi kerentanan zero-day yang dikembangkan dengan bantuan AI.

Temuan ini menjadi sejarah baru dalam dunia keamanan digital. Untuk pertama kalinya, AI terbukti secara nyata digunakan untuk mempersenjatai serangan siber yang sangat mematikan.

Mengutip Engadget, Rabu (13/5/2026), kerentanan zero-day merupakan momok paling menakutkan bagi perusahaan teknologi. Celah ini tidak diketahui oleh target sebelum serangan terjadi, sehingga korban tidak memiliki waktu untuk membangun pertahanan.

Dalam laporan resminya, Google mengungkapkan bahwa para peretas telah merencanakan serangan massal berskala besar di internet. Beruntung, tindakan proaktif dari tim keamanan Google berhasil mendeteksi ancaman tersebut lebih awal.

Potensi kerusakan fatal pada ribuan pengguna pun dapat dicegah. Meskipun Google meyakini model Gemini milik mereka tidak disalahgunakan, mereka tetap memiliki keyakinan tinggi bahwa model AI lain berperan vital.

Kecerdasan buatan tersebut diduga kuat digunakan oleh peretas mulai dari tahap pencarian titik lemah sistem. AI juga digunakan hingga tahap pembuatan kode serangan yang siap pakai.

Laporan GTIG sengaja tidak menyebutkan nama perusahaan yang menjadi target utama. Hal ini demi menjaga kerahasiaan proses perbaikan sistem yang tengah berlangsung.

Namun, Google memastikan bahwa perusahaan yang terdampak telah menerima notifikasi. Mereka segera melakukan penambalan pada celah keamanan yang ditemukan tersebut.

Meskipun identitas pelaku belum diungkap secara eksplisit, Google memberikan isyarat kuat adanya keterlibatan kelompok peretas negara tertentu. Pihak-pihak yang terkait dengan Tiongkok dan Korea Utara disebut menunjukkan minat besar dalam memanfaatkan AI.

John Hultquist selaku kepala analis di GTIG menyatakan bahwa penemuan ini hanyalah sebuah permulaan. Ia menggambarkan kasus ini sebagai puncak gunung es dari ancaman yang lebih besar di masa depan.

"Ini adalah bukti nyata pertama bahwa AI telah bertransformasi dari sekadar alat produktivitas menjadi senjata canggih bagi para aktor jahat," ujar Hultquist dalam laporan tersebut.

Mengingat pertumbuhan model AI yang sangat pesat, penggunaan teknologi ini untuk niat jahat diprediksi akan menjadi standar baru dalam dunia kriminalitas digital. Para ahli memperingatkan industri keamanan siber harus bersiap menghadapi gelombang serangan yang lebih otomatis dan cepat.

AI Digunakan Hacker untuk Serangan Massal

Di tengah meningkatnya ancaman, Google menegaskan bahwa AI juga bisa menjadi alat yang ampuh bagi para pembela keamanan. Perusahaan teknologi raksasa kini mulai berlomba-lomba mengembangkan AI internal untuk mendeteksi serangan sebelum musuh meluncurkannya.

Sebagai contoh nyata, Anthropic baru saja meluncurkan Project Glasswing yang menggunakan model Claude Mythos Preview. Proyek ini bertujuan untuk memburu kerentanan tingkat tinggi.

Persaingan ini menandai dimulainya era baru di mana keamanan internet akan sangat bergantung pada kecanggihan AI. Para pelindung data kini harus memiliki teknologi yang lebih unggul dari para penyerang.

Kasus ini juga mengingatkan pada serangan ransomware massal yang semakin gencar menargetkan perusahaan. Selain itu, ancaman keamanan siber korporasi terus berkembang seiring kemajuan teknologi.

Para ahli menekankan pentingnya kewaspadaan dan pembaruan sistem secara berkala. Ke depannya, AI akan menjadi pedang bermata dua yang menentukan keseimbangan kekuatan di dunia siber.