Jakarta – Dua raksasa teknologi China, Alibaba dan ByteDance, secara resmi mematikan fitur asisten virtual kustom pada aplikasi AI mereka. Langkah drastis ini diambil demi mematuhi regulasi ketat pemerintah setempat.
Regulasi baru itu menyasar layanan AI dengan kemampuan interaksi mirip manusia. Keputusan ini memukul langsung Doubao milik ByteDance dan Qwen milik Alibaba.
Kedua aplikasi tersebut selama ini mengizinkan pengguna membuat dan mempersonalisasi asisten virtual. Fitur itu mencakup gaya komunikasi, keahlian khusus, hingga kepribadian asisten.
Doubao telah mengumumkan penghentian fitur agen AI kustom dengan dalih penyesuaian fungsi produk. Seluruh data pengguna terkait fitur ini akan dihapus secara permanen.
Pengguna tidak bisa lagi melihat atau memulihkan riwayat data tersebut di dalam aplikasi. Pihak ByteDance menyarankan pengguna untuk segera melakukan pencadangan mandiri.
Sementara itu, Qwen mengambil langkah serupa dengan menonaktifkan agen interaktif mirip manusia. Fungsi layanan agen Qwen yang lebih luas juga dihentikan sepenuhnya.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan China yang terus mendorong pengembangan AI Smart Mining untuk produktivitas nasional. Namun, pemerintah tetap mengendalikan asisten virtual secara ketat.
Berdasarkan regulasi baru, China memperketat pengawasan terhadap AI yang meniru kepribadian manusia. Tujuannya adalah untuk membangun interaksi emosional dengan pengguna.
Meski demikian, pemblokiran ini tidak berlaku menyeluruh. Chatbot biasa, AI untuk tanya-jawab umum, dan asisten kerja kantor tetap diizinkan beroperasi normal.
Otoritas siber China mengkhawatirkan sejumlah risiko besar dari chatbot emosional. Risiko itu meliputi potensi penyebaran ideologi ekstrem dan kebocoran data pribadi.
Selain itu, ada kekhawatiran dampak buruk terhadap kesehatan mental pengguna. Ketergantungan psikologis yang tinggi pada AI juga menjadi perhatian serius.
“Penggunaan agen AI seperti ini membutuhkan tingkat pemahaman dan literasi tertentu,” ujar Pan Helin. Ia adalah anggota komite pakar di Kementerian Industri China.
Penghapusan fitur ini bukan kasus tunggal. Sebelumnya, Tencent juga telah menghapus fitur serupa dari Yuanbao, aplikasi asisten AI konsumen mereka.
Fenomena ini menunjukkan arah kebijakan Beijing yang kontradiktif namun terukur. Di satu sisi, China terus mendorong pengembangan Teknologi Superkomputer sebagai infrastruktur baru.
Di sisi lain, pemerintah tidak ragu mengendalikan asisten virtual secara ketat. Langkah ini diambil jika AI dinilai berpotensi mengganggu stabilitas psikologis masyarakat.
Baca Juga:
Hingga artikel ini dirilis, ByteDance dan Alibaba masih memilih bungkam. Keduanya belum memberikan komentar resmi terkait penonaktifan fitur tersebut.
Kebijakan ini menandai era baru pengaturan AI di China. Interaksi emosional dengan AI kini dibatasi demi keamanan dan stabilitas nasional.