Technologue.id, Jakarta – Lagi, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) memblokir aplikasi dan situs yang dirasa meresahkan. Setelah berkoordinasi dengan Google, kementerian yang dikomandoi Rudiantara tersebut terhitung mulai 28 Januari 2018 telah men-suspend aplikasi Blued di Indonesia.

Ini bukanlah kali pertama aplikasi kencan untuk gay diblokir di Indonesia. Sedari September 2016, sudah dilakukan pemblokiran terhadap tiga DNS dan tiga aplikasi LGBT, termasuk Blued. Menyusul pemblokiran terhadap lima DNS Blued pada Oktober 2017 dan masing-masing satu DNS serta aplikasi Blued. Terakhir pada 25 Januari 2018, menyusul tiga IP address dari situs dan aplikasi Blued yang diblokir.

Baca juga:

Siapa Bilang Mobile Legends Itu Game Terpopuler di Indonesia?

Akan tetapi dari pantauan redaksi, Blued dan penggunanya masih aktif di sejumlah media sosial, terutama di Twitter dan Facebook. Akun @Blued_ID terlihat masih mengunggah konten baru sampai Rabu (31/01/2018) malam.

Aplikasi dan Situs Blued Diblokir, Tapi Medsosnya Tetap Aktif
Aktivitas akun Twitter Blued Indonesia yang tetap aktif (Ulwan Fakhri Noviadhista/Technologue.id)

Pun dengan laman @bluedIDMY di Facebook yang tetap membagikan foto dan artikel seperti biasa. Sementara di Instagram, tagar #blued tampak ramai-ramai saja, kendati didominasi oleh posting dari netizen luar Indonesia.

Aplikasi dan Situs Blued Diblokir, Tapi Medsosnya Tetap Aktif
Aktivitas akun Facebook Blued Indonesia yang tetap aktif (Ulwan Fakhri Noviadhista/Technologue.id)

Baca juga:

Saat Google Assistant Ditanya Soal Tuhan, Ini Jawabannya

Di awal tahun ini, berdasarkan penjelasan resminya (29/01/2018), Kemkominfo sudah melakukan beberapa tindakan, yakni mengirimkan permintaan kepada Google untuk mencomot 73 aplikasi berbau LGBT dari Play Store-nya, memblokir 15 DNS dari 15 Aplikasi LGBT yang ada pada Google Play Store, dan mengajukan suspend kepada Facebook terhadap sebuah grup LGBT yang meresahkan masyarakat. Hal tersebut adalah buah dari hasil penelusuran dan pengaduan masyarakat yang menemukan 169 situs LGBT yang bermuatan asusila.

Baca juga:

AI Kini Bisa Seleksi Pegawai, Waspadai Jejak Digital Anda!

Blued sendiri sudah dirilis sejak 2012 silam. Platform yang berkantor pusat di Beijing, Tiongkok, itu sudah punya 27 juta pengguna secara global, dengan mayoritasnya berasal dari China. Inisiatornya adalah pria asal Tiongkok bernama Geng Le alias Ma Baoli.