Cegah Bullying Anak, Game Berbau Kekerasan Diatur Ketat

Technologue.id, Jakarta – Era digital memperbesar peluang terjadinya tindak perundungan (bullying). Kasus perundungan yang sempat heboh menimpa pelajar SMP di Malang disinyalir terjadi akibat maraknya games berbau kekerasan yang mudah diakses oleh anak-anak di Indonesia.

Game online yang mengandung unsur kekerasan, salah satunya dengan tema peperangan, sangat mudah diakses. Sehingga anak-anak dengan kapasitasnya, kerap meniru adegan-adegan berbahaya, dan akhirnya menimbulkan korban.

Menanggapi permasalahan ini, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang memiliki subsektor bidang game dan aplikasi, mengaku telah melakukan serangkaian tindakan preventif dari dampak yang timbul akibat game online yang sarat kekerasan.

Baca Juga:
Dunia Games Rilis Game Genre MMORPG, Rise of Nowlin

“Perundungan terjadi di semua media, di film ada, di buku pun juga ada. Nah bagaimana kita meminimalisir hal itu, seperti di game. Game yang masuk ke Indonesia ada lokalisasi. Hal-hal yang berbau kekerasan dikurangi, seperti game yang keluar darah. Kita lakukan censorship agar lebih sopan,” kata Hari Santosa Sungkari, Deputi Infrastruktur Bekraf, ditemui dalam peluncuran game Rise of Nowlin, di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) pun telah meluncurkan situs Game Rating System (IGRS).

Melalui situs IGRS.ID, para developer game dapat melakukan pendaftaran dan pengujian secara mandiri terhadap produk-produknya (self assesment) agar sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menkominfo No. 11 Tahun 2016, sehingga terklasifikasi dalam kelompok usia pengguna.

Baca Juga:
Mau Rilis, Game Lokal Tersandung Tagihan Pajak dari Bea Cukai Indonesia

Bagi masyarakat, termasuk orang tua, keberadaan IGRS dapat membantu pemilihan game yang sesuai dengan usia penggunanya, sehingga diharapkan permainan interaktif elektronik yang beredar di masyarakat dapat memenuhi rasa aman.

“Di Indonesia ada IGRS. Tidak semua game itu untuk semua umur. Ada yang (diberi rating) 13 tahun, 18 tahun, kalau seperti itu anak kecil tidak boleh,” tutur Hari.

Semua itu, kata Hari, makanya perlu kontrol serta pemahaman maupun bimbingan yang diberikan orang dewasa kepada anak-anak mengenai dampak buruk permainan game online berbau kekerasan. Menurutnya, tugas orang dewasa adalah menciptakan ruang yang aman dan laik bagi anak-anak untuk beraktivitas.

Dirinya pun meminta, agar pihak terkait membatasi akses game online bagi anak. Terutama yang berbau kekerasan.

Recent Articles

Bisnis Digital Dikenai Pajak, Trump Ancam Ambil Tindakan

Technologue.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump geram melihat sejumlah negara akan menarik pajak untuk perusahaan berbasis digital seperti Netflix dan...

Sama Persis, Fitur Telkomsel CloudX Juga ‘Diracik’ oleh Developer Zoom

Technologue.id, Jakarta - Di tengah pandemi Corona, aplikasi video telekonferensi menjadi salah satu layanan komunikasi yang paling diminati. Bila aplikasi meeting online...

Bantu UKM Hadapi Gempuran Pandemi Covid-19, Masterweb Network Rilis Layanan New Web1Menit

Technologue.id, Jakarta - Tahun 2020 memang terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pasalnya baru berjalan selama 3 (tiga) bulan namun perekonomian mengalami goncangan...

Keberadaan Xiaomi Mi Band 5 Terkuak, Ini Fitur-Fiturnya

Technologue.id, Jakarta - Belakangan, Xiaomi tampaknya cukup rajin untuk memperbaharui lini smartband miliknya. Jika tahun lalu sempat merilis Mi Band 4, tahun...

ShopeePay Permudah Transaksi Pemesanan Online Kebutuhan Harian di Masa Pandemi

Technologue.id, Jakarta - Terhitung sudah hampir tiga bulan lamanya pemerintah memberlakukan kebijakan Social Distancing dengan imbauan untuk tetap selalu berada di rumah...

Related Stories