Contact Information

Alamat: Komplek Rumah Susun Petamburan Blok 1 Lantai Dasar, Tanah Abang - Jakpus 10260

We're Available 24/ 7. Call Now.
Gara-gara AI, Emisi Gas Rumah Kaca Raksasa Teknologi Meningkat Drastis
SHARE:

Technologue.id, Jakarta - Emisi gas rumah kaca (GRK) Google melonjak hampir 50 persen dalam lima tahun terakhir, berdasarkan 2024 Environmental Report. Penyebab utamanya adalah konsumsi listrik pusat data yang meroket untuk mendukung produk-produk kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) barunya.

Perusahaan mengungkapkan, emisi pada 2023 telah meningkat 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 14,3 juta metrik ton. Dan juga 48 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2019.

“Hasil ini terutama disebabkan oleh peningkatan konsumsi energi pusat data dan emisi rantai pasokan,” kata Google dalam laporannya. “Seiring dengan semakin terintegrasinya AI ke dalam produk kami, pengurangan emisi mungkin menjadi tantangan karena meningkatnya permintaan energi terkait dengan perkiraan peningkatan investasi infrastruktur teknis kami.”

Baca Juga:
Teknologi AI Google Dinilai Bahayakan Bumi

Dilansir dari The Guardian (2/7/2024), Google memang telah banyak berinvestasi dalam AI. Google mengakui, tujuan mereka untuk mencapai emisi nol bersih atau net zero emission (NZE) pada 2030 tidak akan mudah.

Di sisi lain, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperkirakan, total konsumsi listrik pusat data pada 2026 dapat meningkat dua kali lipat menjadi 1.000 terawatt jam (TWh) dibandingkan 2022. AI sendiri diprediksi membutuhkan pusat data yang menggunakan 4,5 persen pembangkit energi global pada 2030, menurut penghitungan perusahaan riset SemiAnalysis.

Pusat data memang memainkan peran penting dalam melatih dan mengoperasikan model kecerdasan buatan seperti Gemini dari Google dan GPT-4 dari OpenAI. Pada tahun 2023, para peneliti di startup AI Hugging Face dan Carnegie Mellon University menemukan bahwa menghasilkan satu gambar menggunakan kecerdasan buatan dapat menggunakan energi yang sama besarnya dengan mengisi daya ponsel cerdas.

Tidak hanya Google, di tahun ini, Microsoft mengakui, penggunaan energi yang terkait dengan pusat datanya membahayakan target untuk menjadi negatif karbon pada 2030. Presiden Microsoft Brad Smith mengatakan pada Mei, target tersebut akan mengalami evaluasi karena strategi AI perusahaan.

Baca Juga:
Waspada Brain Cipher Susupi "Kunci" Data PDNS 2 dengan Malware

Selain itu, emisi karbon juga dihasilkan dari kegiatan terkait dengan pembuatan dan pengangkutan server komputer dan chip yang digunakan dalam proses tersebut. Penggunaan air juga menjadi faktor lingkungan lain yang menjadi isu AI. Laporan Google menyebutkan bahwa pusat data perusahaan menggunakan lebih banyak air dibandingkan sebelumnya agar tetap dingin akibat beban kerja AI yang semakin besar.

Sebuah penelitian memperkirakan, AI dapat menyebabkan hingga 6,6 miliar meter kubik penggunaan air pada 2027, hampir dua pertiga dari konsumsi tahunan Inggris.

SHARE:

Faktor Ini yang Bikin Ponsel Lipat Semakin Bergairah di Indonesia

Masalah-masalah yang Kerap Mendera Smartphone Layar Lipat