Technologue.id, Jakarta – Netflix kini mungkin sedang menghadapi salah satu polemik terpelik dalam perjalanan bisnis mereka. Pasca mereka sepakat dengan mantan presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, dan istrinya, Michelle, untuk membuat konten orisinal bersama, layanan video-on-demand itu justru terancam diboikot.

Menukil BusinessInsider.com (21/05/2018), ancaman ini menyeruak dari orang-orang di media sosial yang dicurigai bukan simpatisan Obama. Mereka mengajak netizen lain untuk meng-cancel langganan premium di perusahaan yang dipimpin oleh Reed Hastings itu.

Baca juga:

Apple Minat Akuisisi Netflix, Berapa Banyak Dana yang Mereka Siapkan?

- Advertisement -

Pihak Obama telah membantah kalau program yang akan digarap Netflix bersama presiden kulit hitam pertama di AS itu kental dengan unsur politis. Namun, kemungkinan yang ditangkap oleh sebagian publik Negeri Paman Sam berbeda. Hastings sendiri sebelumnya termasuk pendukung Hillary Clinton saat pemilu AS tahun 2016. Ia bahkan menyebut Donald Trump, pemenang pemilu itu, dapat menghancurkan Amerika.

Baca juga:

Cara Memainkan YouTube Sebagai Background App di Android

Sebelumnya, lewat akun Twitter resminya (21/05/2018), Netflix mengumumkan kesepakatan dengan Barrack dan Michelle Obama selama lebih dari setahun untuk memproduksi film dan serial orisinal di platformnya. Kompetitor Hulu, Amazon Prime Video, HBO Now, hingga Iflix itu berencana menggarap serial berbasis skrip dan tidak, dokumenter, serial dokumenter, serta konten features.

Baca juga:

Spielberg: Netflix Tak Layak Menang Oscar

Ini bukan kali pertama Netflix terancam pemboikotan. Maret lalu, wakil AS di PBB di era Obama, Susan Rice, bergabung ke jajaran direktur Netflix. Sejumlah pelanggan meluapkan emosinya karena Rice pernah membuat pernyataan salah terkait serangan terhadap konsulat AS di Benghazi, Libya.