Technologue.id, Jakarta – Transformasi digital kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya banyak perusahaan mengusung strategi cloud first, kini fokus bergeser menuju AI ready, yakni kesiapan infrastruktur, data, dan tata kelola untuk mengadopsi kecerdasan buatan (AI) dalam skala produksi. Melihat perubahan tersebut, Google Cloud menegaskan komitmennya membantu organisasi di Indonesia menjalankan beban kerja AI yang semakin kompleks dengan tetap mengedepankan keamanan, efisiensi biaya, dan tata kelola yang kuat.

Country Director Google Cloud Indonesia, Karim Siregar, mengatakan bahwa era agentic AI menuntut kemampuan engineering yang tidak hanya mampu membangun solusi canggih, tetapi juga dapat diimplementasikan dalam skala besar di pasar seperti Indonesia yang memiliki karakteristik unik.

"Di era agentic AI, salah satu tolak ukur penting bagi kapabilitas engineering adalah kemampuan untuk menghadirkan solusi dalam skala Indonesia yang sesungguhnya. Dengan jutaan pengguna yang mengutamakan perangkat mobile dan tersebar dari pusat metropolitan hingga kota tier-2 dan tier-3, Indonesia menjadi pasar yang benar-benar menguji kemampuan dalam menangani volume dan kompleksitas," ujar Karim.

Menurutnya, Google Cloud menawarkan AI stack yang terintegrasi bersama platform Gemini Enterprise untuk mengurangi kompleksitas integrasi sistem yang selama ini menjadi tantangan banyak perusahaan. Pendekatan tersebut memungkinkan organisasi memodernisasi infrastruktur lama, mengelola biaya penggunaan model AI atau tokenomics secara lebih terukur, serta mengembangkan autonomous agents dari tahap eksperimen hingga implementasi produksi dengan hasil bisnis yang dapat diukur.

Perubahan strategi menuju AI siap produksi mulai terlihat di berbagai sektor industri di Indonesia. Sejumlah perusahaan besar telah memanfaatkan teknologi Gemini Enterprise untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menciptakan nilai bisnis baru.

Di sektor media dan teknologi, Emtek Group mengembangkan visi Studio of the Future melalui platform VidioGen yang dibangun oleh tim teknologi Vidio. Platform berbasis AI generatif tersebut membantu proses produksi konten sehingga mampu memangkas waktu dan biaya redevelopment serial New Keluarga Somat hingga 30 persen tanpa menghilangkan peran kreatif manusia dalam proses storytelling. Saat ini, pemanfaatan AI juga diperluas melalui implementasi no-code agents, Gemini Enterprise agents, hingga pembentukan AI Center of Excellence.

Sementara itu, di sektor telekomunikasi, Indosat memanfaatkan AI untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, mendukung pengambilan keputusan terkait kapasitas jaringan, serta memperkuat pengembangan sovereign AI Grid. Dalam waktu 90 hari, implementasi AI tersebut diklaim mampu menurunkan tingkat user churn sebesar 50 persen, meningkatkan Average Revenue Per User (ARPU) lebih dari enam persen, sekaligus mengidentifikasi potensi efisiensi biaya hingga sekitar US$86,5 juta melalui optimalisasi kapasitas jaringan berbasis AI.

Di industri jasa keuangan, PT Bank CIMB Niaga Tbk bekerja sama dengan Google Cloud dan Artefact mengembangkan enterprise AI agents yang dirancang oleh AI Center of Excellence internal bank. Solusi tersebut mencakup Relationship Manager AI Agent untuk membantu wealth advisor merangkum sentimen pasar dan tren keuangan harian, serta Contact Center AI Agent yang memberikan informasi prosedur dan spesifikasi produk secara real time saat melayani nasabah. Seluruh infrastruktur pendukung knowledge management dioperasikan melalui Google Cloud region Jakarta guna memenuhi ketentuan residensi data di Indonesia.

Karim menegaskan bahwa fokus perusahaan saat ini bukan lagi sekadar mencoba teknologi AI, tetapi memastikan teknologi tersebut memberikan dampak nyata terhadap proses bisnis.

"Keberhasilan di era AI bukan tentang menggunakan AI di suatu tempat, melainkan tentang mengintegrasikannya secara langsung ke dalam alur kerja dengan hasil bisnis yang jelas," katanya.

Selain kemampuan teknologi, Google Cloud juga menyoroti pentingnya aspek ekonomi dalam implementasi AI berskala besar. Melalui Gemini Enterprise, perusahaan diberikan fleksibilitas untuk memilih model AI sesuai kebutuhan sehingga penggunaan token dapat dioptimalkan dengan biaya yang lebih efisien.

Google Cloud mengklaim keunggulan tersebut didukung oleh kepemilikan seluruh vertical stack, mulai dari prosesor Tensor Processing Units (TPU) hingga model Gemini, sehingga efisiensi operasional dapat diteruskan kepada pelanggan dalam bentuk biaya per token yang lebih rendah.

Di sisi lain, perusahaan juga menyediakan berbagai perangkat FinOps dan tata kelola yang memungkinkan tim teknologi maupun keuangan memantau penggunaan AI secara lebih rinci. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan kepastian biaya sekaligus mencegah lonjakan pengeluaran yang tidak terduga ketika organisasi mulai mengimplementasikan AI dalam skala lebih luas.

Untuk mempercepat adopsi AI generatif di lingkungan produksi, Google Cloud juga memperluas organisasi Forward-Deployed Engineer (FDE) di Indonesia. Melalui program ini, para spesialis AI ditempatkan langsung di lingkungan kerja pelanggan sebagai bagian dari tim engineering internal perusahaan.

Model kolaborasi tersebut memungkinkan pelanggan memperoleh pendampingan teknis secara langsung, mulai dari proses integrasi AI ke sistem bisnis, pengurangan risiko implementasi, hingga percepatan peluncuran solusi ke lingkungan produksi.

Menurut Karim, langkah tersebut merupakan respons terhadap meningkatnya kebutuhan perusahaan di Indonesia akan dukungan teknis yang lebih mendalam dalam mengimplementasikan AI secara aman dan terukur.

"Pemimpin bisnis di Indonesia kini tidak lagi mempertanyakan apakah mereka perlu mengadopsi AI generatif, melainkan seberapa cepat mereka dapat menerapkannya secara aman. Dengan menempatkan talenta engineering kami secara langsung di organisasi pelanggan, kami membantu menghilangkan hambatan dalam adopsi AI sekaligus mendukung mereka membangun alur kerja berbasis AI agentik yang akan menjadi fondasi masa depan bisnis," tutupnya.