Baca Juga: Aplikasi Tik Tok Sematkan Teknologi Manipulasi Wajah?
Para pakar digital memperingatkan Sub-komite tentang Perlindungan Konsumen dan Perdagangan mengenai implikasi keamanan sosial dan masyarakat dari media digital yang dimanipulasi, seperti potensi pemalsuan pernyataan politisi yang akan menempatkan mereka dalam konflik. Namun Ketua Sub-komite Jan Schakowsky, dari partai Demokrat tidak setuju, Schakowsky mengatakan ada bukti yang berkembang bahwa teknologi besar telah gagal mengendalikan dirinya sendiri. "Saya prihatin upaya yang dilakukan Facebook dalam mengatasi kesalahan informasi justru meninggalkan banyak hal." Sementara itu, anggota dari partai Republik, Cathy McMorris Rodgers juga mengatakan konsumen kehilangan kepercayaan pada sumber yang dapat mereka percayai secara online. Menurutnya Cathy, Facebook harusnya berfokus pada inovasi untuk memerangi video yang dipalsukan, bukan pada peraturan. Anggota parlemen lainnya secara gamblang menunjuk ketidakmampuan Facebook untuk mengatasi masalah keamanan data, informasi palsu, dan campur tangan asing menjelang pemilihan umum.Baca Juga: Video Deepfake Mark Zuckerberg Ungkap Rahasia Dibalik Facebook?
Wakil Presiden Facebook untuk Manajemen Kebijakan Global, Monika Bickert mengatakan menyadari resiko manipulasi di platform media sosial, kebijakan ini menurutnya justru dirancang untuk mencegah upaya manipulasi yang menyesatkan. Bickert mengatakan video tersebut akan diberi label palsu dan tunduk pada pengecekan fakta. "Penegakan kami tidak sempurna, tetapi sudah membaik. Facebook telah menghapus satu jaringan yang menyebarkan informasi palsu pada 2016, dan pada 2019 sebanyak 50 jaringan sudah kami hapus," ujarnya. Facebook sendiri akan menghapus deepfake yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat video hiper-realistis yang memungkinkan adanya manipulasi dalam video tersebut. Video lain yang dimanipulasi atau diedit secara keliru juga akan diberangus dari platformnya.