Baca juga:
Microsoft Surface Kehilangan Kepercayaan dari Konsumen
Ya, faktanya, setiap menit di tahun 2016, setidaknya ada 30 informasi pribadi yang dicuri via internet. Data itu kemudian dijual oleh peretas di dark web. Dari transaksi ini, penghasilan para black hat hacker bahkan bisa mencapai Rp543 ribu per jamnya atau sekitar Rp1 milar dalam setahun. Modus operandi pencurian data pribadi yang cukup populer adalah melalui ransomware, seperti WannaCry dan Petya yang belakangan ramai diperbincangkan di Indonesia. Malware tersebut akan menyandera data user, lalu pelaku meminta tebusan dari korban kalau ingin datanya selamat. Walau begitu, tak ada jaminan bahwa setelah membayar tebusan data Anda akan dikembalikan. Di tahun 2016, praktik ini telah menghasilkan Rp213 triliun untuk para hacker. Penyebabnya, 70 persen dari korban ransomware memutuskan untuk membayar penjahat siber dengan nominal sekitar Rp13 jutaan.Baca juga:
Wow, Lagu Enggak Jelas Ini Populer Sekali di iTunes!
Cara lain yang biasa dilakukan adalah pencurian informasi kartu kredit serta catatan medis. Keduanya tentu adalah data yang sensitif dan amat memungkinkan menimbulkan kerugian yang besar jika dieksploitasi. Akan tetapi yang cukup menarik, beberapa waktu terakhir juga terpantau peningkatan pencurian akun Spotify, Netflix, dan Hulu. Tren ini meningkat seiring makin seringnya netizen menggunakan platform tersebut untuk mendapatkan konten hiburan premium. Apa yang membuat pencurian akun macam ini laris? Alasannya sederhana, karena di akun layanan streaming ini, tersimpan data perbankan atau kartu kredit user.Baca juga:
Semoga kabar ini bisa membuat Anda lebih waspada dan bijak dalam menggunakan internet dan beragam bentuk kemudahan yang disediakannya.