Jakarta, Technologue.id – Jepang memiliki pendekatan unik dalam menyeimbangkan pembangunan dan pelestarian alam. Alih-alih menebang pohon-pohon berusia ratusan tahun yang menghalangi proyek infrastruktur, negara ini memilih untuk memindahkannya dengan proses yang rumit dan memakan waktu hingga lebih dari setahun.

Teknik ini dikenal dengan nama nemawashi, sebuah metode yang menggabungkan pengetahuan hortikultura turun-temurun dengan teknologi modern. Proses ini mencerminkan penghormatan mendalam masyarakat Jepang terhadap alam dan warisan budaya.

Tidak semua pohon yang menghalangi pembangunan akan dipindahkan. Praktik ini hanya diterapkan pada pohon-pohon yang memiliki nilai sejarah, budaya, atau ekologi yang luar biasa. Sebagian besar pohon ini tumbuh di kawasan kuil, tempat suci, taman tradisional, atau lingkungan bersejarah.

Pohon-pohon tersebut telah berdiri selama beberapa generasi dan dianggap sebagai bagian dari warisan lokal. Dengan memindahkan pohon, Jepang berupaya menjaga keanekaragaman hayati dan karakter lanskap sembari tetap melanjutkan proyek infrastruktur.

Karena biayanya yang mahal dan teknis yang rumit, pihak berwenang akan melakukan evaluasi ketat sebelum memutuskan relokasi. Mereka harus memastikan bahwa usaha dan biaya yang dikeluarkan sebanding dengan nilai pohon tersebut.

Persiapan Berbulan-Bulan di Bawah Tanah

Bagian paling luar biasa dari proses relokasi terjadi jauh sebelum alat berat tiba. Berbulan-bulan sebelum pemindahan, para ahli mulai memangkas akar pohon secara bertahap.

Akar yang dipangkas adalah akar-akar tertentu di sekitar pohon. Tujuannya adalah merangsang pertumbuhan akar serabut baru yang lebih halus dan lebih dekat ke batang utama.

Akar serabut ini sangat penting karena berfungsi menyerap sebagian besar air dan nutrisi yang dibutuhkan pohon untuk bertahan hidup. Dengan mengembangkan akar ini sebelum dipindahkan, risiko transplantasi berkurang secara signifikan.

Tergantung pada ukuran dan spesies pohon, persiapan ini bisa memakan waktu enam bulan hingga lebih dari setahun. Proses ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi dari para ahli.

Apa Itu Nemawashi?

Nemawashi secara harfiah berarti "mengelilingi akar." Awalnya merupakan istilah dalam hortikultura, kini kata ini juga digunakan dalam dunia bisnis dan politik Jepang.

Dalam konteks bisnis, nemawashi merujuk pada persiapan diam-diam sebelum memperkenalkan perubahan besar. Metafora ini berasal langsung dari teknik transplantasi pohon.

Prinsipnya sederhana: persiapan yang matang sebelum mengambil tindakan akan menghasilkan hasil yang lebih baik. Dalam berkebun, menyiapkan akar terlebih dahulu meningkatkan peluang pohon dewasa untuk bertahan hidup setelah dipindahkan.

Proses Pemindahan Pohon Raksasa

Setelah sistem akar siap, proses relokasi dimulai. Pekerja menggali di sekitar pohon untuk mempertahankan sebanyak mungkin bola akar yang telah disiapkan.

Akar kemudian dibungkus dengan bahan pelindung seperti goni. Batang dan cabang pohon juga diamankan untuk mencegah kerusakan selama pengangkutan.

Alat berat seperti derek, peralatan hidrolik, atau kendaraan khusus digunakan untuk memindahkan pohon ke lokasi barunya. Di sana, pohon ditanam kembali di lubang yang telah disiapkan dengan hati-hati.

Pohon tersebut akan didukung dengan struktur stabilisasi dan dipantau secara ketat. Penyiraman dan perawatan rutin dilakukan hingga pohon menunjukkan pertumbuhan baru.

Tingkat Keberhasilan Relokasi

Meskipun telah melalui persiapan berbulan-bulan, memindahkan pohon dewasa tidak selalu berhasil. Pohon yang lebih besar mengalami stres signifikan karena sebagian sistem akarnya pasti hilang selama transplantasi.

Keberhasilan bergantung pada spesies, usia, kesehatan pohon, waktu pemindahan, dan kualitas perawatan pasca-transplantasi. Oleh karena itu, teknik ini hanya diterapkan pada pohon yang nilainya sebanding dengan biaya dan usaha yang dikeluarkan.

Pelajaran dalam Keseimbangan Pembangunan

Pendekatan Jepang menunjukkan bahwa pembangunan perkotaan dan pelestarian lingkungan tidak harus selalu bertentangan. Relokasi pohon berusia ratusan tahun membutuhkan perencanaan matang, keahlian khusus, dan investasi besar.

Namun, hasilnya memungkinkan beberapa landmark alam paling berharga di Jepang untuk bertahan bagi generasi mendatang. Alih-alih melihat pohon kuno sebagai penghalang, praktik ini memperlakukan mereka sebagai warisan hidup yang layak dilestarikan.

Pendekatan ini membuktikan bahwa pembangunan dan pengelolaan lingkungan dapat berjalan beriringan. Filosofi konservasi yang menghargai pelestarian sejarah hidup ini terus digunakan hingga kini.