Technologue.id, Jakarta – Kamera instan pada aplikasi Google Translate kini dibekali fitur deteksi bahasa otomatis. Fitur ini mampu mendeteksi 88 bahasa mulai dari bahasa negara-negara di Eropa hingga Afrika dan Asia.

Tanpa perlu buka kamus, pengguna hanya perlu mengarahkan kamera ke objek yang memuat tulisan. Kemudian aplikasi Google Translate secara otomatis akan mendeteksi bahasa dari tulisan itu dan menampilkan hasil terjemahannya.

Baca Juga:
Unik, Bayi Asal Indonesia Ini Dinamai “Google”

Bagi mereka yang sering bepergian ke luar negeri, fitur ini akan sangat berguna. Misalnya, untuk membaca menu saat memesan makanan di restoran atau membaca nama jalan atau petunjuk jalan.

“Mirip dengan fitur ‘real-time translation’ yang baru saja kami luncurkan di Google Lens, ini adalah suatu cara intuitif untuk memahami lingkungan sekitar Anda dan sangat membantu saat bepergian ke luar negeri, meskipun ponsel Anda tidak terhubung dengan data seluler ataupun Wi-Fi,” demikian bunyi keterangan resmi dari pihak Google.

Terjemahan kamera instan ini menambahkan dukungan untuk 60 bahasa lainnya, seperti Bahasa Arab, India, Melayu, Thailand, dan Vietnam. Berikut daftar lengkap semua 88 bahasa yang didukung, termasuk Bahasa Jawa, Sunda dan Indonesia.

Yang menarik lainnya dari fitur ini, sebelumnya Anda hanya bisa menerjemahkan antara Bahasa Inggris ke bahasa lainnya, namun kini Anda dapat menerjemahkan ke lebih dari 100 bahasa di Google Translate. Ini berarti Anda dapat menerjemahkan dari Bahasa Arab ke Bahasa Perancis atau Bahasa Jepang ke Bahasa Mandarin, dan lain sebagainya.

Baca Juga:
Google Mulai Serius Garap Fuchsia OS

Teknologi di balik fitur ini adalah Neural Machine Translation (NMT). Pemakaian NMT untuk kamera pada aplikasi Google Translate berawal pada 2015. Sementara penggunaan NMT untuk Google Translate versi web dimulai sejak 2016.

Neural Machine Translation merupakan pendekatan penerjemahan yang menggunakan jaringan saraf tiruan yang besar untuk memprediksi kemungkinan urutan kata-kata, sering kali juga dalam bentuk kalimat utuh.

Dibandingkan dengan Statistical Machine Translation (SMT), yang memakan lebih banyak memori dan waktu, NMT melatih bagian-bagiannya untuk memaksimalkan performa. Dengan demikian, NMT dapat mengungguli pendekatan penerjamahan tradisional.

Soal akurasi, NMT diklaim dapat mengurangi tingkat kekeliruan dari 55 hingga 85 persen pada pasangan bahasa sumber dan bahasa terget tertentu.