Technologue.id, Jakarta – Per 21 Februari mendatang, industri financial technology (fintech) akan semakin ramai dengan kehadiran LinkAja, gabungan dari bank-bank BUMN, Pertamina, serta PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel). Sebagai salah satu fintech yang sedang naik daun, bagaimana Go-Pay menyikapi pendatang baru di bisnis pembayaran digital ini?

“Orang yang menggunakan cashless masih sedikit. Jadi semakin banyak orang yang mengedukasi untuk masyarakat Indonesia pindah ke cashless itu akan semakin baik,” ujar Winny Triswandhani, Head of Corporate Communications Go-Pay, usai acara penandatangan MoU antara Go-Pay dengan Filantropi Indonesia, di Jakarta, Senin (18/2/2019).

Baca Juga:
Permudah Donasi, Go-Pay Kembangkan Filantropi Digital

Winny menjelaskan, dengan menjamurnya pemain di industri fintech tanah air, maka pertumbuhan penggunaan uang elektronik akan terus meningkat.

“Penting bagi pemain industri yang lain untuk mengajak orang belajar pakai transaksi nontunai, apalagi di masyarakat bawah,” tuturnya.

Penggunaan Go-Pay sendiri semakin meluas dari ekosistem Gojek. Berdasarkan Laporan Fintech 2018 oleh DailySocial dan OJK, dompet digital ini disebut sebagai uang elektronik terpopuler di Indonesia. Di mana lebih dari 70 persen responden mengatakan mereka menggunakan Go-Pay sebagai alat pembayaran digital.

Baca Juga:
Go-Pay Layani Pembayaran NonTunai Pelajar SMK di Jakarta Utara

Hasil yang sama juga ditemukan oleh lembaga riset independen di bawah naungan Financial Times, FT Confidential Research Mobile Payment yang menyebutkan bahwa Go-Pay berada di posisi terdepan dalam hal penggunaan uang elektronik di Indonesia.

Selain untuk pembayaran transportasi online, Go-Pay juga bisa untuk membayar pajak motor, bayar tagihan rumah sakit di Samarinda, bayar Pajak Bumi dan Bangunan, beli tiket museum, hingga donasi digital.