Technologue.id, Jakarta – Tren social media saat ini banyak melahirkan selebritas dadakan alias selebgram. Selebgram ini selalu berhasrat menyajikan konten video atau artikel yang bisa menyedot perhatian banyak viewer. Dengan begitu, konten mereka bakal memuncaki trending di kanal platform media sosial, entah YouTube, Twitter, atau bahkan Tik Tok.

Namun sayangnya tidak semua konten mengandung unsur positif. Banyak kreator hanya membuat konten supaya ditonton sama orang dengan mengabaikan norma sesuai kaedah.

Nukman Luthfie, Pengamat Social Media sekaligus Dewan Pengarah Siberkreasi, mengatakan banyak selebgram yang kebelet trending sehingga rela melakukan hal-hal di luar nalar hingga mengancam jiwa mereka sendiri.

“Banyak orang melakukan hal-hal yang extraordinary agar masuk sepuluh besar trending. Mereka bikin video-video yang berbahaya, misalnya video Kiki Challenge. Video itu pernah trending di beberapa platform,” kata Nukman, di sela-sela acara peluncuran Safety Center Tik Tok di Jakarta, Selasa (18/12/2018).

Baca Juga:
Tik Tok Bangun Safety Center, Lindungi Pengguna dari Penyebaran Konten Negatif

- Advertisement -

Melihat kecenderungan itu, Ia menyarankan agar platform media sosial memiliki fitur filtering agar bisa memilih konten mana saja yang pantas trending.

“Sekarang social media sudah pakai teknologi AI (kecerdasan buatan). Dengan AI ini, bisa melihat pola-pola tertentu agar konten trending yang berbahaya seperti itu akan tenggelam. Sebagai gantinya, konten positif yang akan muncul ke permukaan. Dengan algoritma yang bagus, konten ini akan menjadi trending,” jelas Nukman.

“Tik Tok juga pakai AI, sementara di tempat lain masih banyak yang manual. Jangan sampai kejadian dulu baru di take down,” tandasnya.

Pihak Tik Tok Indonesia pun mengaku kerap mempromosikan konten positif di platform video singkat tersebut. Video kampanye yang mengandung unsur positif bakal dipasang diurutan teratas agar banyak pengguna yang menonton.

“Ada kampanye-kampanye yang kami lakukan bekerjasama dengan KPAI dan ICT Watch. Ini contoh konten positif yang kita buzz agar viral dan banyak dilihat oleh orang,” kata Donny Eryastha, Kepala Kebijakan Publik TikTok untuk Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Ia menekankan bahwa tidak semua pengguna bisa bebas posting video mereka demi meraih trending di Tik Tok. Ada tim reviewer yang akan mengecek konten video mereka terlebih dulu apakah sudah sesuai pedoman yang dibuat perusahaan atau belum.

“Tidak semua orang bisa posting apa pun. Kalau ada video trending namun membawa konten negatif, bisa secepatnya kita turunkan,” ujarnya.