Technologue.id, Jakarta – Kisah akuisisi konsorsium Tiongkok terhadap Opera bagai sebuah drama yang menarik dan mungkin saja tak pendek serta sepele. Bagaimana tidak, pembuat peramban awal asal Norwegia itu sempat ditawar dengan nilai fantastis, yakni Rp 16 triliun, pada Februari 2016 silam. Akan tetapi, kabar terbaru yang dipublikasikan oleh Reuters (18/7/16) menyebut kalau Opera gagal menjadi milik Tiongkok.

Kegagalan akuisisi ini disebabkan oleh sandungan regulasi. Entah dari pihak berwenang Tiongkok atau Amerika Serikat (atau malah keduanya), yang jelas Opera membutuhkan persetujuan dari mereka dan ada yang tidak memberikan izin. Padahal, Opera sendiri sudah menyepakati proposal dari konsorsium Tiongkok yang terdiri dari Qihoo 360 Technology Co. dan Beijing Kunlun Tech Co itu.

Namun, cerita ini tampaknya akan masih berlanjut. Sebab, konsorsium dari Negeri Tirai Bambu itu masih bersikeras memiliki Opera, walau hanya sebagian dari bisnis mereka, seperti bisnis browser mobile dan desktop serta divisi kemanan dan performa. Opera pun kembali disodori proposal akuisisi senilai Rp 8 triliun dan telah menyetujuinya.

Bagi Anda yang penasaran dengan kelanjutan nasib Opera, jawabannya mungkin tak akan lama lagi. Pasalnya, petinggi Opera mengusahakan proses akuisisi rampung di sisa kalender tahun ini.

- Advertisement -

 

Baca juga :

ALASAN TIONGKOK MAU BESARKAN INDUSTRI STARTUP INDONESIA

SAMSUNG MAU BELI PRODUSEN MOBIL, PERTANDA APA?

DEMAM POKEMON GO RANGSANG KELAHIRAN BISNIS BARU