Technologue.id, Jakarta – Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan suhu rata-rata global akan melampaui kenaikan 1,5 derajat Celsius dibandingkan era praindustri.
Temuan tersebut tertuang dalam laporan terbaru berjudul Limiting Overshoot. Laporan ini tidak lagi hanya membahas bagaimana dunia dapat mempertahankan kenaikan suhu di bawah 1,5 derajat Celsius, tetapi mulai berfokus pada cara membatasi seberapa tinggi dan berapa lama suhu bumi berada di atas ambang tersebut.
Batas 1,5 derajat Celsius selama ini menjadi salah satu target utama dalam Paris Agreement. Ambang tersebut dipandang penting untuk mengurangi risiko dampak perubahan iklim yang semakin parah.
Namun, perkembangan kondisi iklim dan lambatnya penurunan emisi membuat target tersebut semakin sulit dicapai.
UNEP memperkenalkan pendekatan yang disebut “overshoot, peak and decline”. Melalui strategi ini, negara-negara tetap harus berupaya menurunkan emisi gas rumah kaca secara drastis, tetapi pada saat yang sama mempersiapkan langkah untuk menurunkan kembali suhu setelah sempat melewati batas 1,5 derajat Celsius.
Salah satu bagian penting dari strategi tersebut adalah carbon dioxide removal (CDR) atau penghilangan karbon dioksida dari atmosfer.
CDR dapat dilakukan melalui berbagai teknologi maupun pendekatan yang bertujuan mengurangi jumlah karbon dioksida yang sudah berada di atmosfer. Namun, UNEP menegaskan bahwa penghilangan karbon bukanlah pengganti upaya mencapai emisi nol bersih (net zero).
Artinya, negara-negara tetap harus mengurangi emisi gas rumah kaca dari sumbernya. Penghilangan karbon menjadi langkah tambahan untuk membantu menekan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer.
UNEP mengingatkan bahwa meskipun kenaikan suhu di atas 1,5 derajat Celsius hanya berlangsung dalam waktu relatif singkat, dampaknya tetap dapat sangat serius.
Semakin tinggi suhu dan semakin lama bumi berada di atas ambang tersebut, semakin besar pula risiko terjadinya dampak perubahan iklim yang sulit dipulihkan.
Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen mengatakan tidak ada kondisi yang benar-benar aman jika suhu global bertahan di atas 1,5 derajat Celsius.
“Tidak ada hasil yang baik jika kita tetap berada di atas 1,5°C. Di seluruh dunia, gelombang panas ekstrem sudah membuktikan bahwa dampak iklim akan datang lebih cepat, menghantam lebih keras, dan berlangsung lebih lama,” ujar Andersen.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan semakin banyak korban jiwa sekaligus mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.
Karena itu, Andersen meminta negara-negara memperkuat upaya penanganan perubahan iklim dengan memangkas emisi gas rumah kaca, meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim, serta memperkuat langkah adaptasi.