Technologue.id, Jakarta – Platform investasi aset crypto PINTU mencatat peningkatan minat terhadap saham dan Exchange Traded-Fund (ETF) Amerika Serikat (AS) yang ditokenisasi sepanjang kuartal III-2026. Jumlah pengguna yang membeli tokenized stocks dan ETF di platform tersebut naik 68% dibandingkan kuartal sebelumnya.

PT Pintu Kemana Saja (PINTU), platform yang disebut berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), juga mencatat pertumbuhan aktivitas perdagangan aset tersebut. Jumlah trader aktif meningkat 64%, jumlah transaksi naik 55%, sedangkan volume trading tumbuh 51% secara quarter-on-quarter (QoQ).

Presiden Direktur PINTU, Andy Putra, mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan semakin tingginya minat pengguna terhadap aset tertokenisasi, terutama saham perusahaan teknologi global.

“Kuartal III-2026 menunjukkan positifnya perdagangan aset tertokenisasi di platform PINTU,” ujar Andy dalam keterangannya.

Sejumlah aset mencatat pertumbuhan jumlah pembeli yang signifikan. Nvidia (NVDAX) mengalami kenaikan 224%, Apple (AAPLX) tumbuh 212%, Alphabet (GOOGLX) naik 131%, dan Robinhood (HOODX) meningkat 118%.

Sementara itu, dari sisi volume perdagangan, aset tertokenisasi Meta (METAX) mencatat kenaikan lebih dari 230%.

Menurut Andy, pertumbuhan ini menunjukkan pengguna semakin aktif mengikuti perkembangan perusahaan global sekaligus memperluas pilihan aset untuk membangun portofolio investasi.

PINTU juga melihat pengguna mulai memanfaatkan aset tertokenisasi untuk diversifikasi investasi, tidak hanya berfokus pada saham teknologi.

Salah satu instrumen yang mengalami peningkatan minat adalah SPDR Gold ETF. Jumlah pembelinya naik lebih dari 170% pada kuartal III-2026.

Andy mengatakan tren tersebut menunjukkan adanya ketertarikan pengguna untuk mendapatkan eksposur terhadap emas sebagai bagian dari portofolio mereka.

Karena itu, PINTU berencana terus memperluas pilihan aset tertokenisasi agar investor dapat mengakses berbagai instrumen investasi melalui satu aplikasi.

Sejak menghadirkan aset tertokenisasi pada 2025, PINTU terus menambah pilihan instrumen bagi investor dan trader di Indonesia.

Per Oktober 2026, platform ini menyediakan lebih dari 100 aset tertokenisasi yang mencakup saham AS, ETF, dan berbagai komoditas. Berdasarkan keterangan perusahaan, transaksi aset tersebut dapat dimulai dari Rp11.000.

PINTU juga menambahkan 10 aset tertokenisasi baru yang diterbitkan oleh Ondo. Penambahan tersebut terdiri dari sembilan ETF dan saham Micron (MUon).

Instrumen baru ini memperluas pilihan investasi ke sejumlah pasar Asia, sektor komoditas, dan instrumen pendapatan tetap. Pilihannya termasuk ETF yang terkait dengan pasar Jepang, Korea Selatan, dan India, serta US Treasury bills atau surat utang pemerintah AS berjangka pendek dengan tenor 0–3 bulan.

Untuk aset baru tersebut, transaksi dapat dimulai dari Rp65.000. Saham tertokenisasi MUon tersedia untuk diperdagangkan selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu atau 24/7. Sementara itu, sembilan ETF lainnya dapat diperdagangkan selama 24 jam sehari, lima hari seminggu atau 24/5.

Andy menjelaskan, melalui PINTU, pengguna dapat membeli aset tersebut dalam pecahan kecil atau fraksional menggunakan rupiah. Dengan begitu, pengguna tidak perlu membeli satu unit penuh aset yang harganya relatif tinggi.

Menurut Andy, mekanisme tersebut dapat mempermudah investor Indonesia mengakses eksposur ke pasar global tanpa harus membuka rekening di perusahaan efek luar negeri.

Jam perdagangan yang lebih panjang dibandingkan jam bursa reguler AS juga dinilai memberi fleksibilitas bagi investor Indonesia yang berada di zona waktu berbeda.

Andy turut menyebut pajak final sebesar 0,21% sebagai salah satu aspek yang ditawarkan pada produk tersebut. Namun, ketentuan pajak dapat bergantung pada karakteristik instrumen dan aturan yang berlaku, sehingga investor perlu memeriksa ketentuan produk sebelum bertransaksi.

Perlu dicatat, tokenized stocks tidak selalu memberikan hak yang sama dengan kepemilikan saham secara langsung. Hak suara, dividen, struktur hukum, dan mekanisme penebusan bergantung pada produk serta penerbitnya. Investor perlu memahami ketentuan masing-masing aset sebelum membeli.

Tren aset tertokenisasi juga berkembang di pasar global. Semakin banyak penerbit dan institusi keuangan yang memanfaatkan teknologi blockchain untuk menghadirkan representasi digital dari aset dunia nyata atau real world assets (RWA).

Berdasarkan data RWA.xyz yang dikutip dalam keterangan PINTU, kapitalisasi pasar aset tertokenisasi mencapai US$39,26 miliar per 20 Oktober 2026, setara sekitar Rp708,64 triliun berdasarkan angka yang dicantumkan perusahaan.

Andy menilai tokenisasi berpotensi membuka akses yang lebih luas bagi investor ritel terhadap berbagai instrumen investasi yang sebelumnya relatif sulit dijangkau.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap aset memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. Investor perlu melakukan riset, memahami profil risiko, serta menyesuaikan pilihan instrumen dengan tujuan keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.