Technologue.idAppsRiot Games Setuju Bayar Denda Rp1,4 Triliun Karena Diskriminasi Gender

Riot Games Setuju Bayar Denda Rp1,4 Triliun Karena Diskriminasi Gender

Technologue.id, Jakarta – Developer game, Riot Games, akhirnya setuju untuk bayar US$ 100 juta (Rp1,4 triliun) ke lebih dari 2.000 karyawannya. Jumlah tersebut naik dari yang sebelumnya US$ 10 juta (Rp142 miliar).

Hal ini dilakukan untuk penuhi tuntutan atas diskriminasi gender, yang dilayangkan para penggugat pada tahun 2018 lalu. Di mana para wanita yang melaporkan perkara ini mengganti pengacara dengan Genie Harrison dan memutuskan bahwa angkanya tidak cukup.

Baca Juga:
Riot Games Asia Tenggara Merayakan Tahun Pertama VALORANT ESPORTS

Kemudian dua lembaga negara, yaitu California Department of Fair Employment and Housing dan Department of Labor Standards Enforcement melihat lebih jauh kasus ini. Mereka menjelaskan bahwa para wanita tersebut berhak atas lebih dari US$ 400 juta (Rp5,6 triliun), sampai akhirnya sepakat pada angka Rp1,4 Triliun.

Berdasarkan ketentuan perjanjian yang sudah disepakati, total yang dibayarkan nantinya akan dibagi ke 2.300 karyawan. Lebih dari 1.000 pekerja full-time dan 1.300 kontraktor akan dapatkan US$ 80 juta (Rp1,1 triliun). Sedangkan sisanya US$ 20 juta (Rp284 miliar) diberikan kepada pengacara dan biaya lainnya.

Selain diskriminasi, diketahui juga ada kasus lain seperti pelecehan seksual dan upah yang tidak setara. Direktur California Department of Fair Employment and Housing, Kevin Kish, menyampaikan bahwa semua industri di California termasuk game, harus berikan gaji yang sama.

Di mana termasuk memberikan tempat kerja yang bebas dari diskriminasi dan pelecehan.” Jelas Kish.

Baca Juga:
Riot Games Bakal Bawa Valorant ke Mobile

Gugatan ini sendiri sudah diajukan sejak November 2018 lalu oleh Jessica Negron dan Melanie McCracken. Keduanya adalah karyawan yang saat ini masih bekerja dan sudah keluar dari Riot Games.

Mereka melayangkan tuduhan ke developer game tersebut, di mana rata-rata pekerjanya 80% diisi oleh laki-laki yang melakukan diskriminasi. Selain itu, juga ada pelecehan seksual, pembalasan kepada para wanita yang berbicara dan mengedepankan budaya “Men-First”.

Bukan cuma atas nama perusahaan, gugatan terpisah juga ditujukan ke CEO Riot Games, Nicolas Laurent, atas pelecehan dan diskriminasi. Dilakukan oleh mantan asisten eksekutif, di mana penyelidikan dilakukan oleh pihak ketiga yang tidak temukan bukti kesalahan. Sehingga, Laurent pun masih tetap berada di posisinya saat ini.

- Advertisement -