Rumah Sakit Jadi Target Serangan Siber

- Advertisement -

Technologue.id, Jakarta – Serangan siber yang berusaha mengambil alih kontrol sistem informasi meningkat 260% pada tahun 2019 dimana layanan kesehatan, termasuk rumah sakit (RS) menjadi salah satu target utama. Pemicunya adalah belum matangnya sistem keamanan teknologi informasi, serta tingginya nilai data finansial, serta rekam medis pasien.

Country Director Fortinet Indonesia Edwin Lim menjelaskan, serangan siber pada sistem informasi layanan kesehatan dan rumah sakit yang menjadi fenomena global, juga terjadi di Indonesia. Riset yang dilakukan Fortinet menunjukkan sebanyak 88% layanan kesehatan serta rumah sakit mengalami serangan siber melalui email pada 2020. Serangan yang bertujuan mengambil data itu dilakukan dalam berbagai metode mulai malware, spyware, ransomware, phising hingga injeksi SQL.

Baca Juga:
Serangan Siber Incar Perbankan dan Mata Uang Kripto

Tingginya risiko serangan siber pada rumah sakit, menurut Edwin, dipicu semakin lazimnya digitalisasi di rumah sakit, yang ditandai dengan tingginya penggunaan Internet of Things (IoT) di tingkat global mencapai 87% serta kecenderungan menyimpan data di komputasi cloud. Namun, kondisi itu belum dibarengi kematangan atau kesiapan menghadapi serangan siber yang akan merugikan rumah sakit, pasien bahkan bisa memicu gangguan dan penghentian operasi.

“Serangan ini terjadi di Eropa, Amerika Serikat dan yang terdekat dengan kita, Singapura pada 2018, itu yang terpublikasi, serta di Indonesia sempat masuk di pemberitaan sebuah rumah sakit diserang menggunakan malware. Pada serangan malware, hacker masuk melalui email dan mengacaukan operasi rumah sakit. Lazimnya pelaku meminta uang tebusan, namun tidak ada jaminan pula setelah dibayar data akan dikembalikan sepenuhnya,” kata Edwin.

Sayangnya, menurut Edwin, hingga saat ini kesadaran institusi layanan kesehatan, termasuk didalamnya RS di Indonesia belum memadai. Bahkan, berdasarkan riset Fortinet sebagian rumah sakit bahkan tidak menyadari bahwa sistem teknologi informasinya pernah atau sedang diserang.

“Berdasarkan riset kami, pelaku serangan ini akan mencoba terus. Mereka melakukan aksi serangan berkali-kali hingga akhirnya berhasil dengan mencari celah keamanan yang ada,” ujar Edwin.

Baca Juga:
UKM Mencoba Pulih, Serangan Siber Malah Menghantui

Pada institusi layanan kesehatan atau rumah sakit, lazimnya yang diserang adalah Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang mengintegrasikan layanan rekam medis, diagnosa, hasil pemeriksaan laboratorium, resep obat hingga pembayaran.

“Data-data itu sangat rahasia sekaligus berharga. Ingat pula, ancaman bukan hanya datang dari luar, namun juga kalangan internal. Lebih dari 59% serangan siber terhadap data itu ternyata dilakukan orang dalam,” lanjut Edwin.

Kewaspadaan layanan kesehatan, termasuk rumah sakit, kata Edwin, juga menjadi keharusan karena tingkat serangan setiap tahunnya meningkat 60% setiap tahunnya. Pihak penyerang akan mencoba segala celah. Termasuk, melalui email yang kata kuncinya sangat lemah atau kelengahann lain yang dilakukan berbagai pihak di lingkungan rumah sakit, bahkan tim teknologi informasi sendiri.

- Advertisement -

Latest News

Related Stories