Baca juga:
Siapa Pencuri 30 Juta Data User Facebook? Ini Hasil Temuan Mereka
Menariknya adalah, bahkan beberapa pelaku penjual data memberikan garansi seumur hidup kepada pembelinya. Jika satu akun berhenti berfungsi, pembeli akan menerima akun baru secara gratis Identitas digital yang dijual termasuk data dari akun media social yang dicuri, rincian perbankan, akses jarak jauh ke server atau desktop, dan bahkan data dari layanan populer seperti Uber, Netflix, dan Spotify, serta situs web game, aplikasi kencan, dan situs web porno yang mungkin menyimpan informasi kartu kredit.Baca juga:
Serangan Ransomware SamSam Minta Tebusan Rp148 Miliar
Data-data itu mudah dicuri karena lemahnya kesadaran pengguna terhadap keamanan akunnya. Mungkin harga jualnya tidak seberapa, namun sebetulnya dapat dimanfaatkan dengan banyak cara untuk kejahatan dunia maya. Hal ini dapat menyebabkan masalah besar bagi pengguna, karena berakibat kehilangan uang dan reputasi, atau dikejar pembayaran utang yang timbul atas nama individu padahal dilakukan oleh orang lain, atau bahkan dicurigai melakukan kejahatan yang tidak dilakukan karena identitasnya dicuri sebagai kedok. “Sangat jelas bahwa peretasan data adalah ancaman besar bagi kita semua. Ini berlaku baik untuk individu dan masyarakat, karena data yang dicuri ini dapat mendanai banyak kejahatan sosial," tutur David Jacoby, Peneliti Keamanan Senior di Kaspersky Lab.Baca juga:
Cara yang paling umum untuk mencuri data semacam ini adalah melalui kampanye phising spear atau dengan mengeksploitasi kerentanan keamanan dalam perangkat lunak aplikasi. Setelah serangan berlangsung sukses, pelaku akan mendapatkan kumpulan data berisi kombinasi email dan kata sandi untuk layanan yang diretas. Dengan banyaknya orang memasang kata sandi yang sama untuk beberapa akun, pelaku juga sangat mungkin untuk menggunakan informasi tersebut dalam upaya mengakses akun di platform lainnya.