Technologue.id, Jakarta – Setelah Facebook, Twitter, dan Instagram, Snapchat menjadi media sosial yang cukup diperhitungkan belakangan. Adanya fitur filter yang unik-unik dan Stories, yakni status foto atau video yang bisa hilang dalam 24 jam, jadi daya tarik tersendiri bagi netizen millennial.

Namun, pertumbuhan pengguna Snapchat belakangan melambat atau stagnan. Contohnya, dari April sampai Juni 2017 lalu, mereka memang berhasil mencatatkan 173 juta jumlah pengguna. Sayangnya, jumlah itu masih di bawah 2 juta dari ekspektasi analis Wall Street.

Baca juga:

Segera, Pengguna Snapchat Akan Dapat Bayaran!

- Advertisement -

Untuk memopulerkan kembali platformnya, medsos berlogo hantu itu tengah mengembangkan fitur baru namanya Stories Everywhere. Dikutip dari Cheddar.com (27/12/2017), fitur tersebut memungkinkan pengguna Snapchat untuk merekam Stories dan menyebarkannya ke seluruh penjuru internet, tak hanya di dalam aplikasinya saja.

Di samping fitur yang konon masih berada dalam tahap pengembangan awal itu, Snapchat diisukan juga tengah menyiapkan kemudahan bagi warganet pengguna aplikasi lain untuk mengakses feed user generated video-nya. Snap Inc., perusahaan induk Snapchat, mengincar lisensi penggunaan konten yang dicomot oleh netizen dari cara ini.

Baca juga:

Google Beli Snapchat?

Rumor ini hanya berselisih beberapa pekan saja dari isu Snapchat yang hendak membayar para kreator populernya. Konsep insentif yang disebut akan hadir tahun depan ini mirip dengan apa yang sudah diterapkan oleh YouTube, di mana user Snapchat bisa mengunggah videonya untuk kemudian mendapatkan komisi dari iklan.

Baca juga:

Pengguna Snapchat Makin Banyak, Tapi…

Prediksi Anda, mampukah strategi-strategi di atas meningkatkan basis pengguna Snapchat sembari membuat revenue mereka merangkak naik?