Technologue.id, Jakarta – Beberapa waktu terakhir, cobaan untuk Uber luar biasa berat. Setelah kasus pelecehan terhadap pegawai wanita yang menghebohkan jagat maya, layanan transportasi online itu juga mengakui bahwa servernya telah diobok-obok oleh dua orang hacker.

Dalam sebuah statement resminya (21/11/2017), Uber menyatakan ada 50 juta data user dan 7 juta data driver dari seluruh dunia yang telah dirampas dari mereka tahun lalu. Data yang dicuri tersebut mengandung detail nama, alamat email, dan nomor telepon.

Baca juga:

Antara Go-Jek, Grab, dan Uber, Mana Favorit Pengguna Android Indonesia?

Bahkan tak hanya data pribadi, 600 ribu pelat nomor kendaraan mitra mereka di Amerika Serikat juga ikut dicuri pelaku yang sudah dipastikan bukan dari internal Uber itu. Pernyataan ini datang langsung oleh Dara Khosrowshahi, sang CEO.

Uber juga mengklaim bahwa tak ada histori lokasi, nomor kartu kredit maupun rekening bank, dan tanggal lahir yang diambil oleh pelaku.

Baca juga:

Grab Catatkan Sejarah Sekaligus Kalahkan Uber!

Dara mengakui Uber memang terlambat dalam menjelaskan temuan ini. Namun sejauh ini, seperti dilansir oleh CNBC (21/11/2017), Uber telah melakukan langkah-langkah pengamanan yang konkret, sedari membayar para hacker sebesar Rp1,35 miliar untuk menghapus data tersebut sekaligus sebagai uang tutup mulut hingga memecat Chief Security Officer mereka, Joe Sullivan.

Baca juga:

Begini Cara Mudah Komplain ke Lebih dari 850 Perusahaan

Sebagai CEO, Dara memang tak senang dan mengharapkan hal ini terjadi. Akan tetapi, ia mewakili Uber berkomitmen untuk belajar dari kesalahan dan memperbaiki bisnis mereka lebih baik.