Technologue.id, Jakarta – Tokopedia telah mengumumkan pemenang kompetisi hackathon “DevCamp 2019”. Tahun ini, pemenang pertama kompetisi hackathon DevCamp 2019 adalah sebuah grup, yang terdiri dari Dion Saputra (Institut Teknologi Bandung), Ridwan Afwan Karim Fauzi (Universitas Gadjah Mada), dan Azzam Jihad Ulhaq (Institut Teknologi Sepuluh Nopember).

Mereka menciptakan produk bernama Artpedia yang berfungsi mempertemukan seniman dengan para kolektor karya seni, misal lukisan.

Dalam pengaplikasiannya, Artpedia didukung oleh teknologi Augmented Reality (AR), dimana pengguna dapat melihat langsung karya seni dengan mengarahkan kamera ke lokasi yang mereka inginkan. Inovasi ini memberikan pengalaman interaktif dan imersif kepada pengguna ketika menggunakan aplikasi tersebut.

Redaksi Technologue.id berkesempatan mewawancari ketiga developer muda berbakat ini untuk mengetahui pengalaman mereka saat mengikuti kompetisi tahunan dari Tokopedia tersebut. Berikut interview seru dengan tim jawara DevCamp 2019:

Ridwan Afwan Karim Fauzi (kiri), Azzam Jihad Ulhaq (tengah), dan Dion Saputra (kanan)

Bagaimana awal tim ini terbentuk?
Dion: Kita ini dari universitas berbeda. Sebelum ada tim ini, kita ikut seleksi event DevCamp terlebih dahulu mulai dari seleksi programming, seleksi sama HR (human resources), sampai psikotest juga. Setelah itu, terjaring 39 peserta dari 1700 orang yang daftar. Dari 39 orang dikelompokkan sama panitia menjadi 13 tim. Sebelumnya kita tidak saling kenal dan baru mengobrol pun ketika di sini (tergabung tim).

Setelah menjadi sebuah tim, mengapa memilih untuk mengembangkan Artpedia?
Dion: Dari event-nya sendiri ada dua konten utama, yaitu training dan hackhaton. Di training, kami diajarkan teknologi-teknologi yang dipakai di sini, seperti front-end dan back-end untuk Android dan iOS. Sementara di hackhaton, kami diminta untuk men-solve problem dengan tema ‘Membantu orang menggapai mimpinya’.

Di sana kita awalnya brainstorming karena idenya beda-beda terus kita diskusi dulu. Nanti dari mentor-nya kita diskusiin semua ide yang kita punya untuk hackhaton, mana ide yang layak untuk di-launching. Dari diskusi itu baru deh kita dapat ide Artpedia untuk hackhaton.

Artpedia itu apa sih?
Ridwan: Artpedia itu produknya yaitu aplikasi Android. Awal masalahnya itu kami bikin survey dan setelah itu kami dapat pain point bahwa seniman-seniman muda tidak ada space untuk mengekspos karyanya. Okelah kalau mereka sudah punya nama, tapi kalau mereka masih mahasiswa mereka tidak punya tempat untuk mengekspos karyanya. Itu yang membuat profesi sebagai seniman kurang.

Dari situ kita berpikir bagaimana kalau ada platform yang bisa menampung semua seniman baru atau lama bisa meng-upload atau showcase karyanya. Ini sebuah ekosistem bagi penikmat seni (baik itu kolektor atau seniman muda), ada satu tempat untuk seni. Selain membantu seniman, kita juga tetap menghubungkan penikmat seni. Jadi seniman mendapat eksposur sehingga karya mereka terkenal, mereka tidak perlu menyewa tempat pameran atau galeri. Kita membuat jembatan antara penikmat seni dan seniman-seniman muda untuk menggapai mimpinya.

Produk di Artpedia apa saja?
Azzam: Saat ini concern kita masih seni rupa seperti lukisan dan patung. Kalau musik itu kan masih rentan dengan copyright. Jadi kita fokus ke seni yang berupa fisik.

Lalu Artpedia menggunakan teknologi Augmented Reality (AR), bagaimana teknisnya?
Dion: Ini aplikasi yang kami develop selama 18 jam. Karena ini Hackhaton kami mau implementasi fitur yang diunggulkan. Ada dua fitur yang kami tonjolkan yaitu Augmented Reality buat penikmat seni agar bisa melihat karya seni seolah-olah ikut pamerannya. Augmented Reality itu ada objek virtual yang ditempelkan di dunia nyata. Secara teori seperti itu. Misalnya kita punya lukisan mau pasang di dinding kamar. Jadi kita lihat dan cocokkan ke dinding.

Namun saat kami develop ini dari Augmented Reality itu sendiri ada beberapa limitasi. Beberapa device, terutama spesifikasi rendah, tidak support.

Selain AR, kami juga ada fitur Discover karya seni. Misalnya kita lihat lukisan di mall terus kita bingung mau cari lukisannya di mana, jadi kita potret saja dan cari di database Artpedia. Kita pakai teknologi machine learning, jadi kita masukkan gambar ini lalu Convolutional Neural Network (CNN) yang sudah kita training akan mencocokan data input ini di semua database seniman. Di aplikasi ini kami masukkan beberapa gambar lukisan, namun untuk versi komersial, nanti yang masukkan oleh seniman itu sendiri.

Ridwan: Saat seniman bikin akun untuk men-showcase karyanya nanti pas kita foto kita akan mencari gambar yang mirip foto itu. Nanti kita kasih namanya siapa dan karyanya.

Dion: Dari sisi seniman juga meninggalkan jejak digital di karyanya. Misalnya seniman sudah bikin lukisan terus mereka ingin karyanya tidak hilang begitu saja, tapi penikmat seni tahu bahwa setelah di-scan itu karya seorang seniman siapa.

Dalam aplikasi itu ada informasi apa saja?
Dion: Ada harga, nama pelukis, lalu ada order seperti marketplace biasa. Karena ini aplikasi untuk Hackathon, jadi kita tidak mengimplementasikan sistem pembayarannya. Yang jelas, kita hanya tunjukkan flow untuk melakukan order. Selain itu, kami mendesain aplikasi ini untuk melihat versi galeri dari senimannya. Jadi seperti galeri beneran.

Alasan ikutan DevCamp 2019?
Dion: Ini kan DevCamp kedua. Tahun lalu aku tidak ikut. Terus aku lihat temanku yang ikut di tahun lalu ternyata ada banyak benefitnya, mulai dari training, magang, dan kalau menang ada hadiahnya juga. Ada event lagi aku ikut coba dulu saja, siapa tahu bisa lolos training, magang, atau bahkan juara.

Ridwan: Aku suka ikut Hackathon. Aku pernah lihat di Instagram, terus langsung googling event (DevCamp) tahun lalu seperti apa. Terus nemu beberapa cerita dan akhirnya tertarik juga. Selain itu, aku dijadwalin magang dari kampus pada Januari tahun depan. Ini kesempatan magang di Tokopedia.

Azzam: Kalau aku skilling up apalagi lagi liburan sayang saja waktu kalau tidak dimanfaatin. Apalagi persaingan kita semakin ketat. Dalam artian, dalam satu bulan saja teknologi berganti cepat banget. Saya masih belajar versi 5.5, sudah keluar lagi 5.8, 6.0, dan seterusnya. Dengan saya memaparkan diri ke industri, saya jadi tahu perkembangan di industri. Harapannya mungkin saya bisa sumbangsih kaderisasi ke adik kelas, kebetulan saya admin di lab. Minimal aku sudah punya ‘peta’ karena yang mahal dari semua ini adalah ‘petanya’.

Ridwan Afwan Karim Fauzi (kiri), Azzam Jihad Ulhaq (tengah), dan Dion Saputra (kanan)

Pengalaman saat mengembangkan Artpedia hanya dalam waktu 20 jam?
Ridwan: Tahap sulit itu pas ide, karena punya egonya masing-masing. Setelah kami kasih semua ide dan diskusi, maka hal itu yang disepakati.

Azzam: Kita jadi belajar objektif dan open mind. Kalau ada yang benar, maka akui benar. Begitu pun kalau salah, maka akui salah. Menurut saya itu skill yang harus dilatih, karena berhubungan dengan hati.

Dion: Dari segi realisasinya, Artpedia tuh awalnya Augmented Reality saja. Sampai jam 1 malam, kok fiturnya cuma satu saja kepikiran apalagi yang bisa dimainkan. Lalu baru kepikiran machine learning, kita kerjakan kira-kira sampai jam 4 pagi. Setelah itu, kita lihat team lain juga pakai server. Kita akhirnya bikin server sampai jam 6 pagi. Lalu kita sambungkan ke aplikasi, dan satu jam lagi kita pakai untuk bikin PPT dan latihan pitching.

Setelah menang, ada rencana kolaborasi dan integrasi dengan Tokopedia?
Azzam: Sampai saat ini belum ada obrolan ke sana. Dari kami ada harapan sedikit, apalagi Tokopedia punya pengguna 90 juta setiap bulan. Bila nanti diintegrasikan, maka artinya setiap baris kode kita dipakai oleh 90 juta orang. Ya kita bersyukurlah. Next untuk dalam waktu dekat, kami belum tahu.

Kalau untuk project Artpedia sendiri bagaimana?
Azzam: Belum ada rancangan ke depan. Ide ini kan baru dilakukan pas hari H. Belum ada kepikiran ke mana dan seperti apa.