Baca Juga: Pasar idEA 2019 Diramaikan Ratusan Pelaku E-commerce
Bila sebuah startup menerima pendanaan baru, dikatakan Untung, maka valuasinya akan naik. Di sisi lain, kekuatan modal dan keahlian para investor lokal belum bisa menunjang perkembangan startup Indonesia. "Startup Unicorn terbesar di Indonesia valuasi sudah di atas Rp 100 triliun. Sementara, orang terkaya di Indonesia uangnya setahu saya Rp 500 triliun. Artinya, kalau dilihat dari nilai perusahaan ini cuma ada dua orang atau keluarga di Indonesia yang bisa beli perusahaan unicorn. Kalau dibatasin investor asingnya, (startup) ini gak akan tumbuh. Karena yang bisa beli cuma dua, yang bawahnya juga menyusul," papar Untung. "Padahal ketika mereka (startup) uangnya habis, kalau tidak diterusin maka hangus semua uang yang sudah di-spending," imbuhnya.Baca Juga: Kantongi Investasi dari Booking Group, Grab Lirik Bisnis Travel?
Masuknya investor asing juga tak berarti startup Indonesia dimiliki oleh pihak asing. Investasi asing berperan sebagai enabler saja, sementara pengendali perusahaan itu tetap ada pada pendiri. Meskipun ada resiko uang lari ke luar negeri, namun hanya dalam bentuk dividen. "Kalau perusahaan sudah untung, ada dividen yang dibayarkan sehingga negara dapat (bagian). Karena ini investasi real, orang mau narik uang tidak bisa semena-mena. Resiko uang keluar negeri itu kecil namun dampak ekonomi yang ditimbulkan dari investasi asing besar sekali sehingga bisa dimanfaatkan oleh UKM," jelasnya. Sejauh ini telah ada empat startup Unicorn di Indonesia, yaitu Tokopedia, Gojek, Bukalapak, dan Traveloka. Seluruhnya menggalang dana dari para investor kelas kakap sebut saja Softbank, Google. Tencent, Alibaba, Sequoia Capital, JD.com, dan masih banyak lagi.