Technologue.id, Jakarta – Diumumkan sebagai pemenang lelang spektrum 2,3 Ghz, Telkomsel harus membayar lebih dari Rp 1 triliun. Bahkan, operator seluler tersebut harus membayar 3 kali lipat pada pembayaran pertama dari nilai lelang seperti yang disyaratkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) kepada setiap pemenang lelang spektrum.

Meskipun harus membayar dengan nominal uang sekitar Rp 1 triliun untuk mendapatkan 30 Mhz pita frekuensi di spektrum 2,3 Ghz, Edward Ying selaku Direktur Planning & Transformation Telkomsel menyatakan nilai tersebut adalah harga yang wajar.

“Telkomsel telah memperoleh spektrum dengan harga wajar yang jauh lebih rendah dari operator lain di negara berkembang lainnya, seperti salah satu operator telekomunikasi di India yang membayar sekitar empat kali lebih besar, yakni sebesar 0,34 dolar AS/MHz/populasi dibandingkan yang dibayarkan Telkomsel sebesar 0,08 dolar AS/MHz/populasi,” kata Edward saat ditemui Technologue.id.

Baca juga : Kantongi Spektrum Baru, Kecepatan Telkomsel Dijanjikan Sampai 400 Mbps

- Advertisement -

Lebih lanjut, Edward menyebutkan bahwa nilai yang harus dibayar Telkomsel untuk spektrum barunya jauh lebih murah bila dibandingkan dengan negara maju, seperti Korea Selatan, Singapura, Australia, dan Hongkong. Di negara maju tersebut harga yang dibayarkan operator lebih tinggi 1,5 hingga 5 kali lipat dibandingkan yang dibayarkan Telkomsel.

Sementara Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel menyatakan perusahaannya memang sudah sangat membutuhkan tambahan spektrum untuk memberikan kualitas jaringan yang lebih baik bagi pelanggannya yang sudah mencapai angka lebih dari 170 juta.

Baca juga :  Pelanggan Telkomsel Kumpul! Siapa Mau Dapat Mobil BMW 320i Sport?

“Saat ini ketersediaan spektrum di Indonesia masih sangat terbatas dan sangat langka, sementara perbandingan antara jumlah pelanggan dan alokasi spektrum frekuensi yang dimiliki Telkomsel tidak proporsional. Dengan pertimbangan tersebut dan untuk mengakomodasi pertumbuhan pelanggan dengan jumlah populasi yang sangat besar di Indonesia, nilai tambahan spektrum ini menjadi sangat tinggi dan penting untuk Telkomsel,” ungkap Ririek.

Edward menambahkan tambahan spektrum ini akan segera dimanfaatkan Telkomsel dengan mengadopsi teknologi Time-Division Duplex Long Term Evolution (TDD-LTE) untuk memberikan kecepatan yang dianggap mampu memberikan kecepatan internet lebih baik daripada Frequency Division Duplex (FDD) LTE yang sudah dipakai Telkomsel di frekuensi yang sudah lebih dulu dimilikinya.

Dengan diumumkannya Telkomsel sebagai pemenang lelang spektrum frekuensi 2,3 GHz, komposisi alokasi frekuensi yang dimiliki Telkomsel menjadi sebagai berikut: frekuensi 2,3 GHz dengan lebar pita 30 MHZ, frekuensi 2,1 GHz dengan lebar pita 15 MHz, frekuensi 1,8 GHz dengan lebar pita 22,5 MHz, frekuensi 900 MHz dengan lebar pita 7,5 MHz, dan frekuensi 800 MHz dengan lebar pita 7,5 MHz.

Baca juga : Mau Mengiklankan Bisnis Anda dengan Efektif? Coba Telkomsel MyAds!

Dalam hal pembangunan jaringan, hingga semester pertama tahun 2017, Telkomsel telah membangun lebih dari 146.000 BTS, di mana sekitar 65% di antaranya merupakan BTS broadband (3G dan 4G). Saat ini Telkomsel terus melanjutkan pembangunan layanan 4G LTE ke wilayah yang lebih luas, di mana saat ini telah melayani lebih dari 20 juta pelanggan di sekitar 480 ibukota kabupaten.