Technologue.id, Malang –  Anak muda dan startup belakangan amat identik. Ketika dua sampai tiga tahun terakhir nama-nama startup seperti Go-Jek, Traveloka, hingga Tokopedia booming, bisa dirasakan makin banyak generasi muda yang terinspirasi untuk merintis bisnis berbasis digital. Bahkan, tak sedikit pula yang berambisi untuk punya perusahaan sebesar raksasa di Silicon Valley sana.

Namun sebenarnya, mendirikan dan menjalankan startup tidak segampang anggapan banyak orang. Terkadang, butuh kerja keras dan pengorbanan yang tak sebentar hanya untuk bisa tetap bertahan. Istilah sadisnya, menjadi founder atau penggerak startup harus mau “berdarah-darah”.

Hal itulah yang dipesankan oleh Audrey Maximillian Herli alias Maxi (co-founder Riliv) dan Faza Abadi (CEO Olride) kepada para peserta talkshow “Inovasi Atau Mati: Kupas Tuntas Cara Membangun Startup Ala Silicon Valley”, Minggu (18/06/17) sore di Ngalup Coworking Space, Malang. Sebenarnya, sangat memungkinkan startup bikinan anak bangsa bisa sebesar perusahaan teknologi di Silicon Valley, asalkan orang-orang di belakang startup tersebut berorientasi pada penyelesaian masalah di sekitar, bukannya semata-mata ingin memperkaya diri.

Sebagai salah seorang pendiri Riliv, Maxi menegaskan bahwa keputusannya untuk terjun di industri ini ialah supaya bisa menyelesaikan problem yang biasa ditemui di sekitar, spesifiknya masalah kejiwaan. Sebelum fokus ke Riliv, alumnus Universitas Airlangga ini sebenarnya sudah punya dua startup. Namun, keduanya kandas di tengah jalan karena kesalahan orientasinya sendiri.

“Motivasi saya salah. Dulu waktu masih mahasiswa, saya bikin startup cuma ingin ikut kompetisi,” aku Maxi, yang pernah mendapatkan kesempatan mentoring ke Google Jepang.

Sejalan dengan Maxi, Faza berpesan kalau calon founder startup harusnya lebih jeli dalam mencari masalah. Co-founder Olride yang pernah mengikuti kompetisi bisnis rintisan hingga ke Silicon Valley itu mengaku platform yang digagasnya mulanya hanya mencoba memberi solusi sederhana, yakni mengurangi waktu para pemilik motor yang terbuang sia-sia saat harus mengantre di bengkel.

“Startup kan dibikin dari permasalahan. Nah, di Indonesia kita harus bersyukur karena di sini banyak masalah,” kata Faza yang disambut tawa dari hadirin.

Beberapa peserta talkshow “Inovasi atau Mati” di Ngalup Coworking Space berfoto bersama para pembicara (Technologue.id / Ulwan Fakhri)

Riliv sendiri adalah platform yang berupaya menghubungkan orang-orang dengan permasalahan pribadi kepada para ahli, yakni lebih dari 300 psikolog di Indonesia. Sedangkan Olride yang digagas Faza ingin mempermudah masyarakat untuk menyervis motornya. Belum setahun, Olride kini sudah merambah 30 kota dan menggandeng lebih dari 200 bengkel.

 

Baca juga:

KoinWorks Tawarkan Langkah Murah dan Mudah Berinvestasi, dengan Bunga Mulai dari 18%

Taksi Online Itu “Masa Lalu”, Pesan Helikopter Online Dong!

Sudah Kenal GrabNow, Layanan Baru dari Grab?