Technologue.id, Jakarta – CEO raksasa teknologi Alphabet, Sundar Pichai menyatakan kecerdasan buatan (AI) harus diatur. Menurutnya, AI berisiko menimbulkan masalah baru karena penggunaan yang ceroboh.

Dilansir dari Mashable (24/1/2020) Pichai menyebut terobosan teknologi tersebut tidak ada jaminannya. Internet memungkinkan siapa saja terhubung dan mendapatkan informasi darimana saja, tetapi informasi tersebut juga berpotensi salah.

Baca Juga:
Bertemu Bos Qualcomm, Menkominfo Jajaki Kolaborasi Teknologi 5G

Pichai juga mengatakan bahwa dirinya tidak sendiri dan regulasi tentang AI ini sudah mendekati untuk direalisasikan. “Uni Eropa dan AS sudah mulai mengembangkan proposal pengaturan. Penjajaran internasional akan sangat penting untuk membuat standar global berfungsi. Untuk sampai di sana, kita perlu kesepakatan tentang nilai-nilai tersebut,” pungkasnya.

Menurut Pichai, prinsip AI internal Google, yang diterbitkan perusahaan pada tahun 2018 lalu, serta alat-alat untuk menguji apakah keputusan AI sesuai dengan prinsip-prinsip dapat membantu membangun kerangka kerja regulasi universal yang baik untuk AI. Dia juga menyebutkan aturan Regulasi Perlindungan Data Pribadi (GDPR) Eropa sebagai “fondasi yang kuat” untuk regulasi AI.

Baca Juga:
2020, Ada Startup Baru Siap Sandang Unicorn?

Perusahaan teknologi besar global akhir-akhir ini memang semakin sering regulasi di bidang sensitif tertentu. Beberapa waktu lalu, Facebook juga meminta regulasi yang lebih baik dalam hal iklan politik.

Google sendiri yang merupakan anak perusahaan Alphabet telah berada di garis depan penelitian AI di beberapa bidang utama, beberapa contohnya adalah program skrining kanker payudara berbasis AI dan sistem AI untuk peramalan cuaca domestik.