Jakarta, Technologue.id – CNN resmi menggugat startup kecerdasan buatan Perplexity ke pengadilan. Perusahaan media itu menuduh Perplexity menyalin dan mendistribusikan materi berhak cipta tanpa izin.
Gugatan diajukan di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan New York. Langkah ini menjadi tindakan hukum besar pertama yang dilakukan oleh stasiun penyiaran televisi terhadap perusahaan AI generatif.
Sengketa ini memperkuat tekanan hukum terhadap pengembang chatbot dan mesin pencari AI. Mereka dituduh menggunakan konten jurnalistik secara tidak sah untuk melatih model mereka.
Menurut CNN, Perplexity menggunakan laporan berita, merek dagang, dan materi yang dilindungi tanpa kesepakatan lisensi komersial. Kedua perusahaan sebelumnya terlibat diskusi lisensi tahun lalu, namun gagal mencapai kesepakatan.
CNN mengklaim Perplexity terus menggunakan kontennya meskipun tahu tidak memiliki izin formal untuk eksploitasi komersial. Dalam pernyataan resmi, CNN menegaskan gugatan ini bertujuan mencegah perusahaan AI mengeksploitasi karya jurnalis manusia.
Jaringan tersebut menekankan bahwa jurnalisme berkualitas membutuhkan investasi finansial besar. Risiko operasional juga tinggi, terutama dalam peliputan investigasi dan internasional.
Baca Juga:
CNN menyatakan terbuka terhadap kesepakatan lisensi yang wajar. Mereka telah menjalin kemitraan AI, seperti perjanjian dengan Meta pada 2025, namun menentang penggunaan komersial laporannya tanpa bayaran.
Di sisi lain, Perplexity membela praktiknya. Jesse Dwyer, kepala komunikasi perusahaan, menyatakan bahwa “fakta tidak dapat dilindungi hak cipta.” Perplexity berpendapat upaya membatasi akses ke fakta publik bisa menghambat inovasi teknologi.
Gugatan ini mencerminkan konflik lebih luas antara pengembang AI generatif dan pemilik kekayaan intelektual. Dalam dua tahun terakhir, penerbit seperti The New York Times, News Corp, dan Chicago Tribune telah mengajukan gugatan serupa terhadap Perplexity.
Namun, beberapa media memilih jalur kemitraan komersial. Organisasi seperti TIME, Le Monde, dan Der Spiegel baru-baru ini menandatangani kesepakatan lisensi dengan Perplexity untuk mengizinkan penggunaan konten mereka.
Kasus ini menjadi preseden penting bagi industri media dan AI. Keputusan pengadilan nantinya bisa menentukan batasan penggunaan konten berita oleh teknologi kecerdasan buatan.
Sejumlah pengamat menilai gugatan ini akan memengaruhi model bisnis AI ke depan. Jika CNN menang, perusahaan AI mungkin harus membayar lisensi lebih besar kepada penerbit konten.
Perplexity sendiri terus mengembangkan berbagai layanan inovatif. Baru-baru ini, mereka meluncurkan AI kesehatan berbasis data pribadi dan bukti medis, serta menunjukkan minat membeli Chrome dengan harga fantastis.
CEO Nvidia juga mengungkapkan ketertarikan pada layanan Perplexity AI dan ChatGPT. Ini menunjukkan posisi strategis Perplexity di ekosistem AI global meskipun menghadapi tantangan hukum.
Persidangan diperkirakan akan berlangsung berbulan-bulan. Publik menanti apakah pengadilan akan memihak perlindungan hak cipta jurnalistik atau kebebasan inovasi AI.