Dibanding Australia, Indonesia Tertinggal Jauh dalam Penggunaan Big Data

- Advertisement -

Technologue.id, Jakarta – Era digital mengantarkan data sebagai komoditas baru bernilai tinggi di dunia. Berbagai aktivitas yang dilakukan masyarakat di dunia maya, terus terkumpul dalam jumlah yang demikian banyaknya, sehingga muncullah istilah big data.

Salah satu bentuk nyata contoh pemanfaatan teknologi big data adalah pengembangan smart city untuk membantu pemerintahan memberikan pelayanan publik yang lebih baik. Big data bisa membantu mengatasi segudang masalah di kota-kota besar, sebut saja untuk monitoring masalah lingkungan, kemacetan, keamanan transportasi, sampai perilaku warga yang sulit diorganisir.

Baca juga:

Teradata Ciptakan 4D Analytics Pertama Untuk Industri, Apa Kehebatannya?

Tak sebatas smart city saja, big data juga berperan dalam pengembangan bisnis daring. Analisis data bisa digunakan untuk menentukan keinginan konsumen pengguna internet yang hampir tak pernah lepas dari ponsel pintarnya. Dengan menganalisa perilaku konsumen online itu, perusahaan bisa membantu mereka menemukan dan membeli barang secara mudah.

Sebagai contoh, Amazon meluncurkan fitur pembelian ‘1-click’ agar calon pembeli bisa nyaman melakukan pencarian barang sampai transaksi pembayaran selesai dilakukan. Itu penerapan big data di luar negeri, lantas bagaimana dengan di Indonesia?

Baca juga:

Microsoft: Pemanfaatan Artificial Intelligence di Indonesia Sudah Masif

President Director Teradata Indonesia, Erwin Sukito, mengatakan Indonesia terlambat menerapkan digitalisasi big data. Oleh sebab itu, penggunaan teknologi big data di Indonesia belum begitu optimal dari sisi implementasi. Padahal, Indonesia kini tengah berada di dalam era digitalisasi ini. Ia lantas membandingkan penerapan big data di Indonesia dengan di Australia.

“Di Indonesia, baru lima tahun belakangan ini pemerintah dan perusahaan realize bahwa data itu penting. Data ditaruh di semua tempat. Berbeda dengan Australia, seluruh departemen di sana sudah pakai data sejak 22 tahun lalu. Mereka dari 22 tahun lalu sudah punya analytic data dan punya rules. Data ini masuk ke sana, data itu masuk ke sini. Data-data yang penting disimpan di proper place,” ujar Erwin, saat mengumumkan Teradata 4D Analytics, Selasa (10/07/2018), di Jakarta.

Baca juga:

Amankan Ekosistem IoT, Ini Peran Operator Telco Dalam Melindungi Smart Home

Bila mengabaikan big data, perusahaan akan menghadapi konsekuensi yang serius dalam memanfaatkan banyaknya data yang ada. Dengan teknologi ini, perusahaan dapat mengetahui caranya membuat suatu bisnis menjadi lebih baik serta bagaimana cara untuk memiliki kemampuan untuk memprediksi tren masa depan. Karena untuk sukses pada zaman sekarang, perusahaan haruslah mempunyai pandangan ke depan.

- Advertisement -

Latest News

5 Aplikasi Video Call untuk Silaturahmi Lebaran

Technologue.id, Jakarta - Hari Raya Idul Fitri tak lengkap rasanya kalau tidak bersilaturahmi dengan teman dan keluarga. Tapi, karena pandemi Covid-19 belum...

Facebook dan Instagram Dituding Hapus Konten Serangan Israel ke Palestina

Technologue.id, Jakarta - Raksasa media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter dituding telah menyensor, serta menghapus postingan dan tagar terkait ketegangan baru-baru...

128 Juta iPhone Terinfeksi Malware

Technologue.id, Jakarta - Apple baru-baru ini mengungkapkan bahwa ada upaya penyerangan malware ke ratusan juta pengguna iOS. Sebanyak 128 juta pengguna iOS...

#SavePalestine Bergema Imbas Serangan Israel ke Masjid Al-Aqsa

Technologue.id, Jakarta - Warganet dari seluruh dunia mengecam serangan udara mematikan Israel di jalur Gaza dengan mencuitkan tagar #SavePalestine.

Resident Evil: Village Raup 100.000 Gamer dalam 2 Hari

Technologue.id, Jakarta - Resident Evil: Village berhasil memecahkan rekor baru di Steam. Game besutan Capcom tersebut telah meraih pemain aktif hingga lebih...

Related Stories