Technologue.id, Jakarta – Meskipun penyedia layanan streaming saat ini makin banyak, ternyata bisnis ini masih belum menjelma jadi ladang emas. Buktinya, Spotify saja masih kesulitan meraih keuntungan.

Di samping dominasinya di bisnis streaming musik, perusahaan asal Swedia itu masih men-generate uang yang tak terlalu besar per penggunanya. Tak hanya itu, menukil BusinessInsider.com (01/03/2018), uang itu pun masih harus diberikan pada perusahaan rekaman sebagai kompensasi karena sudah menyediakan karya musisi naungannya.

Baca juga:

Spotify Tes Aplikasi Khusus Pemutar Playlist Gratis

- Advertisement -

Dari sinilah penyebab Spotify terus mengalami kerugian. Bahkan, mungkin saja malah tak akan pernah meraup profit.

“Tidak ada jaminan kapan akhirnya kita akan mencapai profitabilitas, itupun jika ada kemungkinan,” kata perusahaan yang dikomandoi oleh Daniel Ek itu dalam dokumen keuangannya.

Baca juga:

17 Live: Kami Masih Fokus ke Live Streaming

Spotify, yang juga mencanangkan untuk melakukan direct IPO, kini punya 159 jutaan pengguna aktif bulanan secara global. Jumlah itu sendiri sudah naik 29 persen dari tahun lalu. Namun, tak sampai setengahnya yang melanggan layanan premium Spotify atau sekitar 71 jutaan saja, meski sudah lebih baik 46 persen dari 2017.

Baca juga:

Google Lirik Industri Game Streaming

Kendati demikian, Spotify saat ini masih menjadi perusahaan streaming musik terbesar di dunia. Apple dengan layanan Apple Music hanya duduk di nomor kedua dengan jumlah subscriber premium 36 jutaan. Layanan lain, seperti JOOX, Guvera, Deezer, termasuk Google dan Amazon jelas masih belum bisa menandingi Spotify.