Technologue.id, Jakarta – Sihir aplikasi pengedit foto FaceApp tengah populer di kalangan warganet termasuk public figure dan tokoh penting. Kendati seru dilakukan, namun siapa menduga bahwa aplikasi ini justru mengancam privasi pengguna.

Ada beberapa dampak yang akan mengganggu privasi pemakai. Salah satunya foto pengguna berpotensi menjadi media promosi atau iklan FaceApp.

Pada dasarnya, orang memberikan FaceApp akses untuk menggunakan, memodifikasi, mengadaptasi, dan mempublikasikan gambar pengguna. Perubahan wajah ini hasil dari kecerdasan buatan melalui artificial intelligence (AI).

Baca Juga:
Lagi Ngehits, Edit Wajah Menua Pakai FaceApp

Seperti aplikasi lain, FaceApp memiliki ketentuan saat pengguna memakai layanannya. Aplikasi photo-morphing asal Rusia itu diizinkan untuk menggunakan nama, nama pengguna, atau rupa apa pun yang disediakan dalam format media apa pun yang disukainya tanpa kompensasi.

“Dengan menggunakan layanan ini, Anda setuju bahwa konten milik pengguna dapat digunakan untuk tujuan komersial. Anda selanjutnya mengakui bahwa penggunaan konten untuk tujuan komersial FaceApp tidak akan menciderai Anda atau orang yang Anda beri wewenang untuk bertindak atas namanya.”

Artinya, FaceApp bisa menggunakan hasil foto Anda untuk apapun tanpa perlu mengeluarkan royalti sepeser pun. Mereka juga punya database meskipun pengguna sudah menghapus foto tersebut. Lisensi ini pun tak bisa diubah lagi. Karena masuk dalam perjanjian antara pengguna dengan penyedia layanan.

Bila Anda tidak sadar, FaceApp sendiri telah menyampaikan ketentuan itu melalui disclaimer yang muncul sebelum menggunakan aplikasi.

Menanggapi rumor ini, FaceApp juga sudah mengonfirmasinya. Perusahaan mengaku kalau aplikasi buatannya sangat melindungi privasi penggunanya

Dilansir dari BBC (17/7/2019), Yaroslav Goncharov, Founder FaceApp sudah mengonfirmasi kalau rumor soal pelanggaran privasi itu tidak benar. Ia mengaku kalau teknologinya hanya mengunggah foto-foto yang dipilih pengguna untuk diedit. Ia juga mengatakan kalau sebagian besar gambar akan dihapus dari servernya 48 jam setelah diunggah.

“Kami tidak pernah mentransfer gambar lain (ke Rusia). Kami mungkin menyimpan foto yang diunggah di cloud, dengan alasan untuk performance dan traffic. Kami ingin memastikan bahwa pengguna tidak mengunggah foto berulang kali untuk setiap operasi pengeditan,” ujar Goncharov

Dia mengatakan bahwa pengguna juga dapat meminta agar semua datanya dihapus. Pengguna dapat mengatur ini di opsi “Setting”.

Goncharov menambahkan, jika mereka tidak menjual atau membagikan data pengguna ke pihak ketiga mana pun untuk tujuan penargetan iklan.

Di lain pihak, Kantor Komisi Informasi Inggris (ICO) mengatakan kepada BBC News bahwa mereka mengetahui penggunaan aplikasi edit foto ini menimbulkan kekhawatiran akan mempertimbangkan upaya menanggulangi isu privasi ini.

“Kami akan menyarankan kepada orang yang mendaftar ke aplikasi apa pun untuk memeriksa apa yang akan terjadi pada informasi pribadi mereka dan tidak memberikan detail pribadi apa pun sampai mereka jelas tentang bagaimana mereka akan digunakan,” kata juru bicara ICO.