Baca Juga: Kominfo Imbau Masyarakat Tidak Sebar Hoaks Soal Virus Corona
Sebuah penelitian psikologis pernah menyatakan bahwa sebagian besar orang akan bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan yang membuat mereka terkesan. Itu bisa dikarenakan malas untuk mencari tahu suatu informasi lebih dalam ataupun bingung untuk memverifikasi kebenaran. Mark Whitmore, Ph.D., asisten profesor manajemen dan sistem informasi di Kent State University di Ohio, menunjuk bias konfirmasi sebagai alasan utama di balik daya tarik informasi yang salah. Bias konfirmasi sendiri adalah suatu kecenderungan untuk mencari bukti-bukti yang mendukung pendapat atau kepercayaannya serta mengabaikan bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya. Kesalahan pemikiran ini menyebabkan penarikan kesimpulan yang salah dan merintangi pembelajaran yang efektif. Dalam rilis penelitiannya, Whitmore mengatakan, "Pada dasarnya adalah kebutuhan otak untuk menerima informasi konfirmasi yang selaras dengan pandangan dan keyakinan yang sudah ada pada individu," jelas Whitmore dalam rilis penelitian.Baca Juga: Masker Laku Keras, Website Xiaomi Youpin Sempat Tumbang
Kecenderungan Ini kemudian dapat berkembang menjadi masalah. Pasalnya, bukan hanya mempersempit pikiran, praktik bias konfirmasi ini juga dapat memicu penyebaran informasi salah. Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Johnny G. Plate sendiri sudah menghimbau kepada masyarakat Indonesia agar mewaspadai beredarnya konten bohong alias hoaks mengenai perkembangan virus Corona. Johnny juga meminta masyarakat untuk tidak mengaitkan masalah Virus Corona dengan masalah-masalah lain yang berdampak luas dan negatif terhadap negara, baik dari sektor ekonomi kita maupun sektor lainnya. Masyarakat juga diharapkan mengacu kepada intitusi resmi dan informasi yang disampaikan pemerintah secara resmi dalam rangka pencegahan dan penanganan virus ini.