Technologue.id, Jakarta – Pascabencana tsunami yang terjadi di Banten dan Lampung Selatan Minggu (23/12/2018), pihak-pihak terkait terus berusaha semaksimal mungkin untuk berkontribusi melakukan pemulihan hingga memberikan pengamanan. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) pun tak mau ketinggalan.

Kontribusi kementerian yang dipimpin oleh Rudiantara itu salah satunya dengan memberikan peringatan pada masyarakat terkait peredaran hoax di media sosial dan pesan pendek (SMS). Dalam penjelasan resminya, Kemkominfo setidaknya mencatat ada dua kabar bohong yang ramai beredar.

Baca juga:

Terjangan Tsunami Anyer Tidak Mengganggu Lalu Lintas Seluler

Yang pertama, hoax alat deteksi letusan gunung. Beredar konten di media sosial yang menampilkan sebuah alat di Desa Selat Duda yang disebut dapat mendeteksi letusan gunung dalam kurun waktu 2 jam sebelum meletus.

- Advertisement -

Konten itu telah dibantah Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho. Ia menjelaskan kalau alat yang mirip sirine tsunami tersebut bisa memberi peringatan dini saat ada bahaya dari letusan Gunung Agung, tetapi tidak dapat digunakan untuk mendeteksi letusan gunung.

Baca juga:

Microsoft Siapkan Jam Tangan yang Bisa Sembuhkan Parkinson?

Lalu, ada juga kabar menyesatkan dari seseorang yang mengaku mendapatkan informasi dari anggota BMKG yang memakai nomor +6281803016426. Dalam SMS-nya, ia menyampaikan agar warga berjaga-jaga mulai tanggal 21 sampai akhir bulan Desember 2018, karena akan terjadi bencana.

Baca juga:

Netizen Serang Akun Twitter Kemkominfo Gara-gara Tweet Ini

BMKG pun memberikan penjelasan bahwa kabar burung itu dikirimkan oleh pihak tak bertanggung jawab. BMKG dan Kemkominfo senada mengimbau agar pengguna internet dan media sosial tidak menyebarkan hoax atau informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jika ditemukan informasi yang tidak benar dapat segera melaporkan ke aduankonten.id atau lewat akun twitter @aduankonten.