Baca juga:
Usik Kemapanan Grab, Go-Jek Resmi Uji Coba Layanan di Singapura
Grab menawarkan "dompet" pembayaran digital dalam kemitraan dengan bank atau perusahaan fintech di Singapura, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan sedang mengembangkan layanan serupa di Thailand. Berkat mengakusisi Kudo, layanan digital payment ini juga berkembang ke Filipina, Vietnam, dan Singapura. Meskipun tidak memiliki jumlah kemitraan yang sama, bulan ini Go-Jek mengumumkan ikatan dengan DBS Group Holdings, pemberi pinjaman terbesar di Asia Tenggara, untuk menfasilitasi layanan keuangan.Baca juga:
Saat Persaingan Go-Jek dan Grab Merambah ke Kuliner
Go-Jek dan Grab didirikan setahun terpisah sebagai perusahaan jasa transportasi. Grab diluncurkan sebagai aplikasi pemesanan taksi di Malaysia, sedangkan Go-Jek mendorong peran sektor informal ojek agar bisa bersentuhan dengan teknologi. Namun bisnis layanan sudah ditingkatkan termasuk diantaranya pembayaran tagihan, jualan pulsa, transfer uang, jasa kurir, food-delivery, dan layanan lainnya ke setiap sudut Asia Tenggara. Lucunya, kedua penyedia layanan ride-hailing tersebut harus bekerja keras mematahkan dominasi rival di kampung halamannya masing-masing. Di mana Go-Jek di Indonesia, dan Grab di Singapura.Baca juga:
Era 5G Dorong Pertumbuhan Bisnis Virtual Reality di Indonesia
"Bekingan" kedua perusahaan tentu bukan investor sembarangan. Pendukung untuk Grab termasuk SoftBank Group Corp, Microsoft Corp, Toyota Motor Corp, dan Uber, yang telah diakuisisi pada bulan Maret lalu. Sementara, sumber energi dana Go-Jek berasal dari Google, Tencent Holdings, JD.com Inc, dan KKR & Co. Soal investasi, Grab menjadi pemain regional yang lebih besar mengumpulkan pundi-pundi uang. Startup berbasis teknologi besutan Anthony Tan dan Tan Hooi Ling itu mengantongi sekitar US$ 11 miliar pada putaran pendanaan terakhir pada bulan Agustus, menurut sumber terpercaya. Di kubu seberang, Go-Jek mendapat suntikan dana antara US$ 9 miliar sampai US$ 10 miliar, setiap perusahaan melakukan putaran pendanaan baru.