Technologue.id, Jakarta – Sudahkah Anda antusias terkait rencana implementasi teknologi jaringan 5G? Sebaiknya begitu, karena 5G akan mulai dikomersilkan mulai tahun ini. Amerika Utara bakal memimpin serapan 5G, diikuti oleh operator-operator di Amerika Serikat antara akhir 2018 sampai pertengahan 2019.

Lantas, bagaimana dengan di Indonesia? Kemungkinan, Indonesia baru akan mengikuti penyerapan teknologi 5G secara masif bersama negara lainnya mulai 2020.

Baca juga:

Penemu Internet: Internet Harus Diregulasi

Kendati demikian, masyarakat mengaku sudah siap menyambut 5G sejak sekarang. Dalam studi Ericsson Consumer Lab, bertolak belakang dengan keyakinan bahwa konsumen tidak tertarik dengan layanan 5G, 84 persen pengguna smartphone di Indonesia justru tertarik dengan layanan 5G.

- Advertisement -

Yang menarik, dari persentase tersebut, lebih dari setengahnya (54 persen) bahkan bersedia membayar untuk itu. Peluang ini sebaiknya tak dilewatkan oleh para operator telco untuk memberikan pelayanan dan meraup pendapatan besar.

Baca juga:

Berantas Kecurangan Siswa Saat Ujian, Negara Ini Rela Padamkan Internetnya

“Ada prospek pendapatan yang signifikan bagi operator Indonesia melalui penyebaran 5G. Untuk Indonesia, pada tahun 2026, akan ada peluang tambahan pendapatan sebesar US$6 miliar (Rp86 triliun) bagi operator telekomunikasi yang menangani digitalisasi industri dengan teknologi 5G. Peluang terbesar untuk pendapatan operator terkait 5G adalah di sektor manufaktur, energi, dan utilitas,” jelas Jerry Soper, Presiden Direktur Ericsson Indonesia, pada redaksi (06/07/2018).

Baca juga:

Negara Ini Mati Karena Tak Ada Internet Dua Hari

Sembari menunggu kedatangan 5G, Ericsson memprediksi kalau jaringan 4G LTE bakal jadi komoditas panas dulu di Indonesia, setidaknya pada tahun 2023 mendatang. LTE akan mencakup sekitar 80 persen dari total langganan di Indonesia pada tahun 2023, dibandingkan dengan 20 persen langganan LTE pada tahun 2017.