Technologue.id, Jakarta – Posisi investasi mata uang digital seperti Bitcoin masih dinilai gamang. Sebagian orang menilai Bitcoin merupakan mata uang virtual atau alat pembayaran digital, yang lain menganggapnya menjadi komoditas yang diperdagangkan secara digital. Namun, tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa Bitcoin hanyalah sistem teknologi yang tidak perlu diketahui profilnya.

Seiring berjalannya waktu, Bitcoin semakin diminati oleh pasar global, bahkan sudah diperdagangkan di berbagai bursa di dunia sebagai alat pembayaran virtual.

Di tengah perspektif yang beragam, Kanta Nandana, Country Manager Luno Indonesia, berpendapat bahwa bitcoin merupakan salah satu aset safe haven, selayaknya emas.

“Bitcoin itu benda seperti emas, namun bentuknya berupa digital, alias tidak berwujud,” jelasnya, saat media session di Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Baca Juga:

Mata Uang Virtual Diminati, Mayoritas untuk Investasi

Ada empat faktor yang mempengaruhi pergerakan roda bisnis kriptokurensi, yaitu kelangkaan, utility, supply, dan demand. “Harga crypto tidak dipengaruhi oleh pemerintah. Harga Bitcoin itu pure didorong oleh permintaan dan penawaran,” tutur Kanta.

Sebagai mata uang digital yang masih terbilang muda, volume Bitcoin masih sangatlah sedikit jika dibandingkan aset lain seperti mata uang konvensional.

Baca juga:

Google Persilakan Cryptocurrecy Beriklan Lagi, Karena Butuh Uang?

Volume ini tentu sangat mempengaruhi pergerakan Bitcoin. Fluktuasi Bitcoin erat kaitannya dengan supply dan demand di pasar. Jika banyak orang membeli Bitcoin dalam jumlah besar, tentu harganya akan naik tajam. Sebaliknya, nilai Bitcoin dapat merosot jika banyak pemiliknya melakukan aksi jual dalam jumlah besar.

Dengan risiko yang besar dengan tidak adanya jaminan dan fluktuasi harga yang sangat tinggi, sehingga perlu berhati-hati. Fenomena perubahan harga dari $1,000/BTC menjadi $10/BTC dalam sehari bukanlah hal yang mengejutkan.

Baca juga:

Incar Pengguna Uang Kripto, Line Luncurkan Bitbox

“Pasar Bitcoin masih kecil, sekitar US$200 miliar di seluruh dunia. Bandingkan dengan Forex yang mencapai US$70 Triliun atau saham yang bernilai US$30 triliun. Akibat pasar yang masih kecil dan perputaran uangnya juga kecil, jika ada pergolakan harga yang cukup signifikan maka akan timbul sentimen,” jelasnya.

Selayaknya emas, Bitcoin memiliki pasokan yang terbatas, sementara permintaan terus meningkat, sehingga kondisi itu membuat harga melaju dengan kencang.