Technologue.id, Jakarta – Baru bulan Oktober lalu, Google mengakui kalau media sosialnya, Google Plus, memiliki celah keamanan yang mengancam data pribadi 500 ribu penggunanya. Gara-gara bug di API-nya ini, Google Plus pun dibunuh. Medsos itu bakal dinonaktifkan pada 2019.

Namun ternyata, serangan ini lebih parah dari yang dikabarkan di awal. Dalam penjelasan resminya (10/12/2018), Google mengakui kalau ada 52,5 jutaan pengguna yang terdampak oleh peretasan data ini. Jumlah tersebut 100 kali lipat dari angka awal yang mereka umbar.

Baca juga:

Bocorkan Data Pribadi User, Google Plus Segera Ditutup

Celah ini membuat pihak ketiga dapat mengetahui nama, alamat email, pekerjaan, hingga umur korban. Kendati demikian, Google mengklaim tidak ada data perbankan, nomor identitas pribadi, password, dan pencurian identitas maupun developer yang berhasil meyalahgunakan informasi itu. Penguasa search engine itu turut mengatakan kalau pihaknya telah menutup celah ini.

Baca juga:

Google Allo Susul Google Plus ke Liang Lahat

“Kami telah mulai memberi tahu konsumen dan perusahaan yang terkena dampak bug ini. Investigasi kami juga sedang berlangsung terkait dampak potensial apa lagi ke API Google Plus lainnya,” jelas David Thacker, VP Product Management G Suite.

Baca juga:

Google Persilakan Cryptocurrecy Beriklan Lagi, Karena Butuh Uang?

Meskipun sudah dipastikan akan ditutup dan dipercepat tutupnya (dari Agustus 2019 menjadi April 2019) beserta API-nya (dalam tiga bulan ke depan), sepertinya tak ada salahnya untuk mempercepat ajal Google Plus. Pasalnya, Google sendiri mengakui kalau 90 persen sesi aktif netizen di Gogole Plus tak lebih dari lima detik. Jadi, mengapa tidak menutup platform yang hidup segan mati tak mau itu di akhir tahun ini saja?