Technologue.id, Jakarta – Bisnis peer-to-peer (P2P) lending menjadi salah satu layanan keuangan yang sedang tumbuh pesat di Indonesia. Ada banyak layanan P2P lending yang beroperasi di Tanah Air, diantaranya Modalku, Investree, Koinworks, Crowdo, Amartha, dan Akseleran.

P2P lending jadi lahan baru buat para investor. Namun dikatakan Ivan Nikolas Tambunan, Chief Executive Officer Akseleran, celah (gap) investasi di Indonesia sendiri masih sangat besar.

“Menurut OJK (otoritas jasa keuangan), masyarakat Indonesia kekurangan dana pinjaman sebesar Rp1.000 triliun. Karena itu, kami ingin mewujudkan inklusi keuangan menjadi realitas bersama pemain fintech lainnya melalui akses pendanaan untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) dan akses investasi pinjaman mudah bagi masyarakat umum,” tutur Ivan, di kantor Akseleran, di Jakarta, Senin (24/09/2018).

Baca juga:

Diguyur Investasi, Akseleran Perkuat Ekspansi Luar Jabodetabek

Ivan menegaskan, platform Akseleran sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK sehingga sesuai regulasi yang berlaku. Hubungan dengan pihak regulator itu pun berjalan baik.

Mengutip data dari OJK, sampai 4 September jumlah perusahaan fintech P2P lending yang terdaftar atau berizin OJK mencapai 67 perusahaan. Jumlah perusahaan yang dalam proses pendaftaran 40 dan perusahaan yang menyatakan berminat mendaftar 38 perusahaan.

Sementara hingga Juli, jumlah rekening penyedia dana (lender) P2P lending mencapai 135.025 entitas atau meningkat 33,77 persen (ytd). Jumlah rekening peminjam (borrower) 1.430.357 entitas atau meningkat 450,91 persen (ytd).

Baca juga:

AWS Ajak Startup Lokal Adopsi Platformnya, Adakah Untungnya?

Total penyaluran pinjaman hingga Juli Rp9,21 triliun atau meningkat 259,36 persen (ytd), dengan NPL Juli 1,4 persen.

Kendati sarat persaingan, namun menurut Ivan, setiap layanan P2P lending memiliki target pasar yang berbeda-beda. Karena itu, masing-masing pemain masih mempunyai kemungkinan untuk meraih kesuksesan.

Akseleran sendiri menargetkan peminjam yang merupakan UKM tingkat menengah ke atas, dengan penghasilan di atas Rp100 juta per bulan. Peminjam (borrower) Akseleran berasal dari kalangan kontraktor, supplier, retailer, dan masih banyak lagi. Hal ini untuk meminimalisir resiko. Startup fintech ini menawarkan tenor 4-6 bln dengan bunga kompetitif sebesar 18-21 persen. Penentuan besaran bunga disesuaikan mengukur kemampuan perusahaan, jaminan, dan karakter.

Baca juga:

Ambil Alih Promogo, Go-Jek Hadirkan Layanan Baru bagi Mitra dan Pelanggan

Untuk menjaga keamanan dari setiap pinjaman, Akseleran pun meminta jaminan (agunan) kepada para peminjam mereka. Sekitar delapan puluh persen agunan yang mereka terima adalah tagihan atau invoice.

“Yang unik dibanding (P2P lending) lain, kami meminta agunan bukan fixed asset, tapi inventory. Kalau ada kredit macet, bisa enforce agunan tadi. Dari sisi proses analisa kredit, dibikin gak ribet. Fokus kami adalah cashflow, agunan, dan behaviour,” ujar Ivan.

Agar konsumen mudah mengakses layanan ini, Akseleran pun menyediakan aplikasi mobile di Android. Untuk versi iOS, direncanakan tersedia mulai awal November mendatang.