Technologue.id, Jakarta – Industri game, sebagai salah satu bagian dari ekonomi kreatif Indonesia, memiliki potensi besar, tapi sayangnya belum tergarap maksimal karena ekosistem industrinya belum terbentuk.

Hari Santosa Sungkari, Deputy Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), mengatakan, instansinya turut memberi dukungan dalam membangun industri game di Indonesia, baik mulai dari memfasilitasi bersaing secara global hingga ke pemberian materil.

“Tugas Bekraf adalah membangun ekosistem. Beberapa di antaranya dengan cara membawa developer lokal untuk tampil di ajang internasional seperti Game Connection America 2018, Bekraf Game Prime, serta mengadakan Bekraf Developer Day. Pemerintah juga memberikan insentif senilai Rp 50 juta sampai Rp 200 juta,” ujar Hari, ketika hadir di peluncuran game mobile ShellFire, di Telkomsel Smart Office, Jakarta, Senin (01/10/2018).

Baca juga:

Telkomsel Luncurkan Game MOBA Pertamanya, ShellFire

- Advertisement -

Ia menekankan, Bekraf memang konsisten mempromosikan game-game berkualitas keluar negeri. Salah satu game yang dipamerkan dalam ajang internasional adalah game bergenre survival horror buatan Digital Happiness, yakni DeadOut.

Menurutnya, DeadOut menyajikan genre berbeda dengan game pada umumnya, sehingga mampu menjadi game PC lokal yang berhasil menembus pasar global.

“Bagi developer lokal, jangan mencoba bikin game yang mengalahkan Point Blank atau Mobile Legends. Tapi buatlah game yang mengangkat kearifan lokal, seperti game horor. Kalau game tentang pocong, pasti akan laris,” ujarnya seraya tertawa.

Baca juga:

Menggeber Ekonomi Digital Lewat Produk Lokal yang Mendunia

Sebagai salah satu subsektor dalam industri kreatif di tanah air, ranah hiburan interaktif berbasis elektronik yang disebut video game masih menjanjikan peluang besar. Mengacu data dari Newzoo, pada tahun 2017 lalu, industri game Indonesia menempati peringkat 16 di dunia dan mereka memperkirakan nilai industri game di Indonesia mencapai US$800 juta atau sekitar atau sekitar Rp11 triliun.

Dari angka tersebut, membuat Indonesia menjadi pasar game terbesar di Asia Tenggara. Bila pertumbuhannya konsisten maka diprediksi nilainya bakal mencapai US$3,75 miliar di tahun 2022.

Baca juga:

Game Lokal Besutan Agate Studio Mejeng di Platform Global

Sayangnya, menurut data Asosiasi Game Indonesia (AGI), pada tahun 2017 pangsa pasar perusahaan game lokal hanya sebesar 5 persen.

“Ada 24 juta pemain game di Indonesia, 56 persen diantaranya telah berbayar. Ini terus kita tingkatkan agar developer lokal semakin termotivasi bikin game yang bagus,” ungkapnya.