Technologue.id, Jakarta – Peluncuran roket SpaceX, Falcon Heavy, Februari lalu sepertinya telah memicu optimisme banyak orang. Blue Origin, perusahaan antariksa yang digawangi CEO Amazon, Jeff Bezos, pun sampai terpicu untuk mengejar Elon Musk dan SpaceX-nya.

29 April lalu, Blue Origin melakukan tes terbang kedelapannya atau yang pertama di tahun 2018. Mengutip Engadget.com (29/04/2018), misi ini sukses, kapsul dummy Crew Capsule 2.0 juga mendarat dengan aman, walaupun ada penundaan karena cuaca. Mereka juga berhasil mencatatkan rekor, karena roket Blue Origin sudah mencapai titik tertingginya, yakni 351 ribu kaki.

Baca juga:

SpaceX Luncurkan Roket Terhebat di Bumi ke Mars

Perusahaan swasta yang didirikan tahun 2000 itu memang masih membutuhkan uji coba lagi. Harapannya, agar mereka mampu memenuhi target yang mereka canangkan sendiri, yaitu untuk me-launching perjalanan luar angkasa pertama mereka berawak manusia tahun ini.

Baca juga:

Begini Kostum Luar Angkasa Keren SpaceX, Mau Pakai?

Perusahaan berkaryawan 1.000 orang itu juga berencana meluncurkan roket terbaru New Glenn. Pesawat luar angkasa itu bisa membawa beban hingga 50 ton ke orbit Bumi rendah atau 14 ton di orbit geosinkron. Kemampuan ini lebih baik dari SpaceX Falcon 9, tetapi masih di bawah Falcon Heavy.

Baca juga:

Amazon Akan Jadi Perusahaan Terkaya di Dunia dan Salip Apple?

Kiprah Blue Origin ini kian memercikkan api kompetisi di tengah industri aviasi swasta. Jika target utama Blue Origin itu benar-benar dapat terealisasi tahun ini, tentunya bisa menjadi pemicu tersendiri bagi SpaceX agar tidak kalah dalam kompetisi ini.