Copyright 2022 Technologue ID. All rights reserved.

News

Resiko Driver Wanita Ojek Online, Dari Cancel Hingga Pelecehan Seksual

byChoiru Rizkia - editorDenny Mahardy Nov 27, 2018

Technologue.id, Jakarta - Go-Jek mengaku tidak pernah pilah-pilih gender dalam urusan rekrutmen driver. Pihak Go-Jek Indonesia menjelaskan, meski jumlah driver wanita tidak terlalu banyak namun proses rekrutmen tetap disamakan dengan driver laki-laki, termasuk mengikuti tes dan pelatihan untuk menjadi mitra. Namun begitu, bukan berarti tak ada beda perlakukan dari Go-Jek maupun penumpang terhadap driver perempuan. "Sebenarnya kalau proses rekruitmen sama driver perempuan driver laki-laki, selama mereka memenuhi administrasi kemudian mereka lolos test safety driver itu udah bisa jadi mitra kita. Jadi enggak ada perbedaan proses rekruitmen," tutur Shinto Nugroho, Chief Public Policy and Government Relations Go-Jek, saat mengadakan workshop mengenai safety riding, di kantor pusat Go-Jek, di Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Baca Juga: Sering Diremehkan, Go-Jek Bekali Driver Wanita Pelatihan Safety Riding

Ia mengatakan pembatalan pengguna karena tidak mau disupiri perempuan juga sangat merugikan para mitra perempuan mereka, karena akan terpengaruh pada penilaian performa mereka, yang secara langsung mempengaruhi pendapatan. Namun bukan berarti driver wanita tidak bisa mencari pendapatan di jalan raya. Selain Go-Ride, startup karya anak bangsa itu memiliki produk-produk lain yang bisa diambil oleh driver wanita. "Salah satu keuntungan mereka menjadi mitra Go-Jek adalah karena produknya banyak. Misalnya di cancel di Go-Ride, mereka bisa ambil Go-Food, Go-Send, Go-Tix, dan sebagainya. Tanpa harus membawa penumpang," katanya.

Baca Juga: Grab: Driver Terduga Pelecehan Memang “Cuma” Kami Suspend

Bicara potensi pelecehan seksual yang menimpa driver wanita, Go-Jek senantiasa memerhatikan aspek keamanan dari sisi teknologi. Salah satunya fitur rating customer yang diberikan oleh driver. Dari fitur ini, driver wanita bisa mengetahui informasi rating mengenai calon pelanggannya. Apakah memiliki nilai baik, kurang, atau buruk. Sementara dari pihak pemerintah, mengusulkan sistem pengamanan dari aplikasi penyedia transportasi online. Langkah itu dilakukan menyusul beberapa peristiwa yang dialami penumpang ataupun pengemudi transportasi online. "Kita melakukan pengawasan ketat karena bisnis taksi online ini kita ingin melindungi pengemudinya. Saya berbicara untuk taksi online, driver perempuan biasanya takut ambil orderan malam. Kami mendorong agar pengelola jasa taksi online meningkatkan sistem pengamanan baik untuk penumpang ataupun pengemudi melalui fitur-fitur yang disediakan. Misalkan tombol panic button," ujar Budi Setiyadi, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI. Budi menerangkan, bila penumpang atau pengemudi merasa terancam oleh pelaku pelecehan, mereka bisa memencet tombol Panic Button. Aplikasi dengan konsep laporan cepat itu akan terhubung dengan pihak kepolisian dan aplikator layanan transportasi online.

#Go-Jek #PelecehanSeksual #Driver #MitraDriver #MitraDriverGo-Jek #DriverWanita #SafetyRiding #AspekKeamanan #PanicButton #TombolPanicButton

Baca Juga